Siswa SMP Negeri 1 Sintang Antusias Belajar di Rumah Belajar Kain Pantang
- 14 Agt 2026 17:26 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Antusiasme siswa SMP Negeri 1 Sintang mengikuti Sekolah Budaya Kain Pantang terus bertambah. Memasuki pertemuan ketiga, Jumat, 14 Agustus 2026, jumlah peserta yang datang ke Rumah Belajar Kain Pantang justru semakin banyak.
Bagi para siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru untuk mengenal langsung kearifan lokal Sintang. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang Kain Pantang, tetapi juga belajar praktik menenun, mengenal proses pewarnaan alami hingga melihat bagaimana kain tradisional dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif.
Salah satu peserta, Prisqila Agustin, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, suasana Rumah Belajar Kain Pantang yang nyaman dan bersih membuat proses belajar menjadi menyenangkan.
“Selama belajar di Rumah Belajar Kain Pantang, saya merasa tempatnya nyaman dan bersih. Kakak-kakak yang mendampingi juga baik dalam mengajarkan cara menenun, proses menenun, dan membuat warna kain,” kata Prisqila.
Ia berharap kegiatan Sekolah Budaya Kain Pantang dapat kembali dilaksanakan dengan fasilitas pembelajaran yang lebih lengkap dan waktu belajar yang lebih panjang.
“Semoga di lain waktu kita bisa seperti ini lagi. Harapannya, media untuk belajar bisa lebih lengkap dan waktu belajarnya ditambah karena kegiatannya seru,” ujarnya.

Peserta lainnya, Fransiskus Riwaldi Manik, juga mengaku mendapatkan pengalaman menyenangkan selama mengikuti Sekolah Budaya Kain Pantang. Ia tertarik karena dapat mempelajari hal baru yang berkaitan dengan budaya dan kearifan lokal.
“Selama belajar di Rumah Belajar Kain Pantang, kegiatannya seru dan menyenangkan. Kami bisa mempelajari hal baru, terutama tentang kearifan lokal dan budaya Kain Pantang,” kata Fransiskus.
Fransiskus berharap pengalaman tersebut dapat membuat para siswa semakin memahami budaya lokal sekaligus mengembangkan kreativitas.
“Semoga kami bisa menjadi pelajar yang baik, memahami budaya dan kearifan lokal, serta bisa mengembangkan kreativitas kami di sini,” ujarnya.
Guru SMP Negeri 1 Sintang, Lisa Santoso, mengatakan antusiasme siswa menjadi salah satu hal positif dari pelaksanaan Sekolah Budaya Kain Pantang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan tradisi menenun, tetapi juga membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan.
“Kami berharap ke depan tetap bisa bersinergi. Kami juga memiliki kegiatan karya ilmiah remaja yang bisa menjadi cikal bakal kerja sama dengan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang,” ujar Lisa.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membuka wawasan siswa terhadap berbagai potensi. Menurutnya, siswa tidak hanya dapat menjadi penenun, tetapi juga mengembangkan kemampuan sebagai konten kreator, peneliti maupun pelaku usaha melalui produk kerajinan bernilai ekonomi.
Sementara itu, pemilik Rumah Belajar Kain Pantang dan Galeri Kain Pantang Sintang, Hetty Kus Endang, mengaku tidak menyangka jumlah peserta justru bertambah pada pertemuan ketiga.
“Awalnya kita inisiasi hanya beberapa orang yang hadir. Ternyata di pertemuan ketiga justru bertambah banyak. Terima kasih kepada SMP Negeri 1 Sintang yang melihat ada sesuatu dari sekolah budaya ini,” kata Hetty.
Hetty mengatakan Sekolah Budaya Kain Pantang merupakan bagian dari upaya regenerasi budaya. Pengenalan kain tradisional sejak usia sekolah dinilai penting agar generasi muda memahami proses pembuatan, pewarnaan hingga pengembangan Kain Pantang menjadi produk bernilai ekonomi.
“Regenerasi bukan hanya terkait belajar menenun, tetapi bagaimana anak muda mengenal budaya ini sejak dini. Bagaimana proses pembuatannya, bagaimana pewarnaannya, dan bagaimana transfer ilmu dari nenek moyang kita terus dilakukan,” jelasnya.
Selain belajar menenun dan pewarnaan alami, siswa juga diperkenalkan dengan hilirisasi produk Kain Pantang. Warisan budaya diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi generasi muda.
Hetty berharap Rumah Belajar Kain Pantang dapat terus menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan ide dan kreativitas, termasuk dalam bidang budaya, konten kreatif, penelitian maupun kewirausahaan.
"Kami ingin Rumah Belajar Kain Pantang menjadi ruang edukasi dan forum anak untuk berkreatifitas. Kami juga ingin produk yang dihasilkan adik-adik ini saat belajar di sini bisa dipasarkan juga melalui Galeri Kain Pantang," tuturnya.
Melalui pengalaman belajar langsung tersebut, Sekolah Budaya Kain Pantang diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang mengenal budaya lokal, tetapi juga generasi muda yang mampu mengembangkan dan meneruskan warisan budaya tersebut. (dby)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....