Galeri Kenyalang Sintang Kenalkan Nyeli’ Batu sebagai Warisan Budaya Dayak

  • 07 Agt 2026 20:21 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Galeri Kenyalang Sintang terus berupaya melestarikan warisan budaya Dayak melalui pengembangan kerajinan tangan berbahan Nyeli’ Batu.

Kerajinan yang memanfaatkan biji-bijian alami tersebut kini semakin dikenal masyarakat setelah berhasil meraih Juara I Kategori Komoditi Potensial 2 pada Lomba Produk Unggulan Daerah (PUD) Kabupaten Sintang Tahun 2026.

Pemilik Galeri Kenyalang Sintang, Carolina Liliana Maria Reni, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus mengembangkan kerajinan khas daerah sekaligus mengajak masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih mengenal budaya lokal.

"Kerajinan Nyeli’ Batu ini dalam lomba PUD Sintang 2026 berhasil mendapat juara satu. Ini membuat saya lebih percaya diri dan juga bersemangat untuk kembali bersama ibu-ibu turun ke lapangan," ujarnya, Jumat, 7 Agustus 2026.

Menurut Reni, Nyeli’ Batu merupakan biji-bijian yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memiliki nilai ramah lingkungan.

Selain memiliki nilai ekonomi, Nyeli’ Batu juga menyimpan makna budaya bagi masyarakat Dayak. Reni menjelaskan, secara turun-temurun biji tersebut dipercaya memiliki energi positif sebagai simbol perlindungan dalam kehidupan masyarakat adat.

"Nyeli’ batu itu sendiri ada filosofinya sebenarnya di Suku Dayak itu sendiri. Bukan hanya di Kabupaten Sintang, tapi juga di Kapuas Hulu, sama kabupaten yang lain pun punya keyakinan kalau Nyeli’ Batu itu punya energi yang positif untuk melindungi badan dari roh-roh halus. Jadi seperti ada kepercayaan tradisi," tuturnya.

Ia menambahkan, dahulu Nyeli’ Batu hanya digunakan sebagai gelang sederhana dengan satu butir biji yang diikat menggunakan benang merah. Kini, melalui sentuhan kreativitas, kerajinan tersebut berkembang menjadi berbagai aksesori yang tetap mempertahankan nilai budaya.

"Tetapi orang-orang sebelumnya pakai gelang kayak gitu, cuma pakainya hanya satu biji saja, terus dipakaikan benang merah, terus kita berfikir berarti ini bagus kalau dibuat gelang dengan model yang seperti ini," katanya.

Reni berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal sekaligus menggunakan produk berbahan Nyeli’ Batu sehingga warisan budaya Dayak tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin kuat apabila diiringi dengan inovasi yang mampu menarik minat generasi muda. (Sta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....