SLI Bekali Petani Hadapi Serangan Hama akibat Perubahan Iklim

  • 27 Jul 2026 19:28 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Penerapan pertanian ramah lingkungan menjadi salah satu materi utama dalam Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik bertema "Penguatan Literasi Iklim untuk Mendukung Ketahanan Pangan Kalimantan Barat" yang diselenggarakan Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat di Aula Serbaguna Gereja Katolik Paroki Santo Martinus, Desa Kebong, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, pada Kamis 23 Juli 2026.

Kegiatan yang diikuti 55 peserta tersebut tidak hanya membekali petani dengan pemahaman mengenai informasi iklim, tetapi juga memberikan solusi menghadapi dampak perubahan cuaca terhadap tanaman pangan dan hortikultura. Salah satu upaya yang didorong adalah penerapan budidaya pertanian yang ramah lingkungan melalui penggunaan pupuk organik dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Petugas UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Kalimantan Barat, Sudarmo, mengatakan perubahan iklim berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama saat terjadi kekeringan yang berkepanjangan.

"Saya sebagai PUPT di Kabupaten Sintang diberi kepercayaan untuk menyampaikan materi tentang pengaruh perubahan iklim terhadap OPT, serangan hama penyakit pada tanaman pangan dan hortikultura. Hubungan atau akibat daripada perubahan iklim, terutama di musim sekarang, yaitu kekeringan dan kurangnya air pada tanaman yang nanti akan mengakibatkan menurunnya hasil produksi karena kekurangan air, apalagi saat tanaman menjelang pembuahan. Jadi pada saat pengisian bulir atau buah padi, kalau kurang air dia akan kosong, tidak berkualitas, atau tidak mengisi dengan penuh. Bahkan bisa mengakibatkan puso atau gagal panen. Jadi untuk kekeringan, mungkin solusinya kalau bisa petani selalu menggunakan pupuk organik supaya di masa kekeringan itu tanaman bisa bertahan pada saat kekurangan air," jelas Sudarmo.

Menurutnya, penggunaan pupuk organik sejak sebelum musim tanam menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketahanan tanaman sekaligus menjaga kesuburan tanah. Selain itu, petani juga perlu memahami bahwa perkembangan organisme pengganggu tanaman berbeda pada setiap musim sehingga penanganannya harus disesuaikan.

"Kalau kekeringan itu diantisipasi sebelum tanam. Petani sudah harus menggunakan sistem penggunaan pupuk organik yang lebih utama, yang berfungsi untuk ketahanan tanaman selain untuk kesuburan tanah. Selain itu, di musim kemarau bakteri akan berkembang dengan pesat. Beda dengan saat musim penghujan. Kalau di musim penghujan, jamur yang dominan akan muncul selain hama yang lain," ujarnya.

Sudarmo mengajak petani mulai beralih pada praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan agar produktivitas lahan tetap terjaga meski menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, penggunaan pestisida nabati dan penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu menjadi langkah yang perlu diterapkan secara berkelanjutan.

"Agar petani selalu menggunakan terutama pupuk organik untuk kesuburan tanah. Jadi pengendalian PHT harus ramah lingkungan. Penggunaan pestisida nabati harus selalu dilakukan. Prinsip PHT harus dilaksanakan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....