Muhasabah Diri Sambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

  • 15 Jun 2026 07:54 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Sintang, Senin, 15 Juni 2026, menghadirkan narasumber Ustadzah Nurul Fadhilah, M.Pd. yang juga Ketua Muslimat NU Kabupaten Sintang. Dalam dialog tersebut, ia membahas makna serta amalan yang dapat dilakukan dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Nurul Fadhilah menjelaskan bahwa Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Penanggalan Hijriah diawali dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad sehingga menjadi penanda pergantian tahun bagi umat Islam.

Menjelang berakhirnya tahun 1447 Hijriah, umat Islam diajak untuk melakukan muhasabah diri. Evaluasi diri penting dilakukan untuk melihat apakah kebaikan yang dilakukan selama setahun terakhir mengalami peningkatan atau justru menurun.

Memasuki tahun yang baru, umat Islam diharapkan mampu memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan yang dianjurkan berdasarkan ajaran para ulama Nahdlatul Ulama adalah puasa sunnah pada akhir dan awal tahun Hijriah.

Ia menjelaskan bahwa amalan sunnah merupakan perbuatan yang mendapat pahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Selain puasa, terdapat sejumlah amalan yang biasa dilakukan masyarakat dalam menyambut 1 Muharram.

Kegiatan tersebut antara lain membaca Surah Yasin bersama di masjid atau musala, membaca doa akhir tahun sebelum Magrib, serta melaksanakan salat Magrib berjamaah. Setelah itu, jamaah dapat melanjutkan dengan membaca doa awal tahun, selawat 313 kali, Ayat Kursi tujuh kali, memperbanyak sedekah, dan amalan lainnya sesuai kemampuan.

Menurut Nurul Fadhilah, seluruh amalan tersebut dilakukan semata-mata untuk meraih keberkahan dari Allah SWT. “Yang paling utama adalah muhasabah diri agar kita bisa meningkatkan kebaikan di tahun yang akan dijalani,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak sibuk melihat keburukan orang lain. Sebaliknya, momentum 1 Muharram hendaknya diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ibadah memiliki makna yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Mengurus anak, melayani suami, bekerja, maupun menjalankan aktivitas lainnya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....