Warga Resah, Monyet Kelasi dari HWB Berkeliaran di Permukiman
- 11 Jun 2026 14:58 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Wilayah II Sintang akan mengambil tindakan terhadap keberadaan sekelompok monyet atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Kelasi yang belakangan kerap memasuki pekarangan rumah warga di Gang Nanas, kawasan Hutan Wisata Baning (HWB), Kabupaten Sintang.
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Sintang, Doni Maja Perdana, mengatakan pihaknya baru menerima laporan dari warga pada Kamis pagi 11 Juni 2026. Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA langsung berkoordinasi dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) untuk melakukan penanganan terhadap satwa liar tersebut.
Doni menjelaskan, proses evakuasi dilakukan menggunakan senjata bius dengan melibatkan tenaga medis hewan. Namun, penanganan tidak dapat dilakukan secara langsung pada siang hari karena berdasarkan hasil pengamatan, Kelasi biasanya muncul dan beraktivitas pada pagi serta sore hari.
“Kami menerima laporan dari warga dan juga Ketua RT setempat pada pagi hari. Teman-teman sudah kami arahkan untuk melihat lokasi. Namun, berdasarkan informasi yang kami terima, Kelasi biasanya muncul pada pagi dan sore hari. Karena itu, penanganan akan dilakukan pada waktu yang tepat agar proses evakuasi lebih efektif,” ujar Doni.
Menurutnya, tim gabungan berupaya menangkap individu Kelasi yang dianggap sebagai pemimpin kelompok atau alfa. Setelah berhasil diamankan, satwa tersebut akan dievakuasi dan dilepasliarkan kembali ke habitat yang lebih sesuai, yakni kawasan Hutan Wisata Baning Sintang.
“Kami sudah berkoordinasi dengan YPOS untuk membawa senapan bius. Kami akan mencari individu alfa atau pemimpin kelompoknya untuk dievakuasi. Setelah itu kami lepaskan kembali ke kawasan Hutan Wisata Baning,” jelasnya.
Doni menilai kemunculan Kelasi di lingkungan permukiman warga kemungkinan dipicu oleh ketersediaan sumber makanan yang mudah diperoleh di sekitar rumah penduduk. Selain itu, kebiasaan sebagian warga yang memberikan makanan kepada satwa liar juga diduga menjadi faktor yang membuat Kelasi semakin sering datang ke kawasan permukiman.
“Biasanya Kelasi masuk ke lingkungan warga karena mencari makanan. Bisa jadi sumber makanan di habitatnya berkurang, atau ada kebiasaan warga yang merasa kasihan lalu memberi makan. Ketika satwa itu terbiasa mendapatkan makanan dari manusia, mereka akan kembali lagi dan bahkan mengajak kelompoknya masuk ke kawasan permukiman,” katanya.
Kejadian ini menjadi salah satu bentuk interaksi antara satwa liar dan manusia yang kerap terjadi di wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan. Melalui kerja sama antara masyarakat, BKSDA, dan lembaga konservasi, diharapkan solusi yang diambil dapat menjaga keamanan warga sekaligus kelestarian satwa liar di Sintang. (din)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....