Kisah Inspiratif Guru Berprestasi di Pelosok Sintang

  • 05 Mei 2026 16:38 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang menantang, semangat pengabdian seorang guru di pelosok Kabupaten Sintang patut menjadi inspirasi.

Priyanto, Guru SD Negeri 22 Penjernang, Kecamatan Sungai Tebelian, berhasil menorehkan prestasi dengan meraih juara 2 kategori Guru SD Dedikatif dalam ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) 2025 tingkat Kabupaten Sintang.

Penghargaan tersebut diterimanya usai pelaksanaan upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dirangkaikan dengan penyerahan piagam dari Bupati Sintang di Halaman Kantor Bupati Sintang, Senin, 4 Mei 2026.

Priyanto mengungkapkan, capaian yang diraihnya menjadi motivasi untuk terus berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan, khususnya di wilayah terpencil.

“Kedepan harapan pendidikan di Sintang ini harus lebih maju lagi dari sekarang ya, karena untuk pendidikan di Sintang ini penguatan-penguatan karakter itu sudah dilakukan, walaupun belum maksimal tapi sudah dilakukan secara sepenuh hati,” ujarnya.

Ia juga mengaku bangga dapat meraih prestasi tersebut, terlebih dengan keterbatasan waktu dan kondisi yang dimilikinya. Bahkan, ia menyebut dirinya sebagai salah satu peserta tertua dalam ajang tersebut.

Menurutnya, prestasi yang diraih tidak boleh berhenti pada penghargaan semata, melainkan harus ditindaklanjuti dengan berbagi praktik baik kepada sesama guru.

“Saya senang dan bangga juga ini ya, karena saya juga ini boleh dibilang peserta yang tertua, usia saya 58 tahun dan tahun depan sudah pensiun. Saat mengikuti ini juga waktunya itu mungkin hanya 2-3 hari dengan kemampuan seadanya pun tetap saya jalankan dan alhamdulillah bisa meraih peringkat kedua,” tuturnya.

Mengabdi di daerah terpencil bukan tanpa tantangan. Priyanto mengisahkan perjalanan menuju sekolah yang harus ditempuh sejauh kurang lebih 30 kilometer dengan kondisi jalan berlumpur, bahkan harus tetap dilalui meski dalam kondisi banjir. Namun, baginya hal tersebut bukanlah hambatan terbesar.

“Tantangan yang terberat itu sebenarnya bagaimana memotivasi anak. Karena sekolah di daerah terpencil, muridnya terbatas dan jumlahnya sedikit. Jadi tantangan terbesar adalah bagaimana membuat peserta didik bisa belajar dengan nyaman,” ucapnya.

Ia mengatakan, saat ini, jumlah siswa di SD Negeri 22 Penjernang terbilang sangat minim, yakni hanya 28 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan pendidikan yang maksimal.

“Saya yakin bahwa nilai seorang guru itu tergantung pada output peserta didik. Harapan saya, guru yang ada harus terus meningkatkan kompetensi, karena perhatian dari pemerintah sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Kisah Priyanto menjadi bukti dedikasi dan semangat mengabdi mampu menembus berbagai keterbatasan, sekaligus menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya untuk terus berjuang mencerdaskan generasi bangsa, di mana pun mereka berada. (Sta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....