Warga Perbatasan Sintang Keluhkan Mahalnya Gas Elpiji 3Kg

  • 26 Jan 2026 22:11 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Masyarakat di Kecamatan Ketungau Hulu,Wilayah Perbatasan Kabupaten Sintang, mengeluhkan tingginya harga serta kelangkaan gas LPG bersubsidi 3 kilogram yang semakin menyulitkan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dirasakan memberatkan, terutama bagi warga yang sangat bergantung pada gas melon untuk kebutuhan memasak.

Salah seorang warga Ketungau Hulu, Herneno mengungkapkan gas LPG 3 kilogram kini sangat sulit diperoleh di wilayahnya. Kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

“Sekarang gas susah dapat. Kalau ada, harganya Rp60.000 sampai Rp65.000 per tabung. Itupun langka dan susah mau carinya,” ujar Herneno, Senin, 26 Januari 2026.

Ia menjelaskan, minimnya jumlah pangkalan LPG di sekitar tempat tinggalnya menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan. Warga kerap bergantung pada pedagang yang membawa gas dari luar wilayah, namun kedatangan mereka tidak menentu.

Herneno menambahkan, sebelumnya harga gas LPG 3 kilogram di Ketungau Hulu masih berada di kisaran Rp55.000 per tabung, meskipun sudah tergolong mahal. Kini, selain harga yang terus meningkat, lokasi penjualan gas juga semakin terbatas.

“Dulu mau beli masih agak mudah, sekarang tidak semua tempat ada yang jual. Kadang pas datang ada gas, cuma sering tidak kebagian. Kalau di wilayah saya tidak ada pangkalan, biasa ada pedagang yang bawa,” katanya.

Keluhan warga Ketungau Hulu tersebut mencerminkan harapan masyarakat di wilayah perbatasan dan pedalaman agar distribusi LPG bersubsidi mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait. Ia berharap ketersediaan gas LPG dapat merata hingga ke desa-desa, sehingga harga kembali terjangkau.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Kartiyus menegaskan, secara kuota, ketersediaan LPG bersubsidi sebenarnya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Sintang.

“Sebenarnya, kalau semua agen sma penyalurnya bekerja sesuai dengan aturan, tidak sulit kok LPG ini. Jujur saja saya melihat agen dan penyalur tidak semuanya bekerja sepenuh hati sesuai aturan,” ujarnya.

Kartiyus menjelaskan, Pertamina selalu siap menyediakan LPG tambahan apabila dibutuhkan. Bahkan, kuota LPG untuk Kabupaten Sintang dinilai mencukupi jika distribusinya berjalan dengan baik hingga ke tingkat desa.

“Pertamina selalu menyediakan, kalau kita kurang mereka sediakan LPG tambahan. Pertamina selalu bersedia menambahkan kuota gas LPG untuk Kabupaten Sintang. Kalau dihitung dari jumlah KK, LPG subsidi ini pasti cukup kalau beredar sampai ke desa,” kata Kartiyus.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat persoalan dalam pendistribusian, terutama ke wilayah-wilayah pedalaman.

“Kita tahu banyak yang tidak sampai ke Serawai, Ambalau, ke Senaning, Ketungau Tengah. Hal ini lah yang menyebabkan barang ini langka. Berarti ada distribusi yang tidak nyambung, itu masalahnya,” tuturnya.

Kartiyus pun menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang harus membeli gas LPG bersubsidi dengan harga tinggi.

“Kasihan rakyat kita ya, bayangkan gas 3 kilogram harganya sampai Rp40.000 ada yang Rp50.000. Itu di dalam kota, apalagi di Senaning, Ketungau Hulu, Serawai dan Ambalau kan, itu yang harus kita fikirkan, kasihan mereka,” ucap Kartiyus.

Pemerintah Kabupaten Sintang diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap agen dan penyalur LPG, serta memastikan distribusi gas bersubsidi benar-benar tepat sasaran hingga ke wilayah pedalaman, agar masyarakat kecil tidak terus terbebani oleh kelangkaan dan mahalnya harga gas LPG 3 kilogram. (Sta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....