Mengenal Tradisi Masyarakat Sunda
- 29 Sep 2025 23:48 WIB
- Sintang
KBRN, Sintang: Ragam budaya masyarakat Sunda memperlihatkan kekayaan nilai tradisi yang terus dilestarikan hingga kini. Budayawan Sunda, A Ukus, menjelaskan berbagai tradisi tersebut dalam diskusi budaya yang berlangsung Senin (29/9/2025). Salah satu yang dikenal luas adalah botram, yakni makan bersama dengan menu seperti nasi liwet, sambal, tahu, kerupuk, lalapan, dan ikan asin yang bertujuan mempererat persaudaraan.
Tradisi lainnya adalah nyaneut, kebiasaan minum teh hangat ditemani makanan rebusan seperti ubi dan ganyong atau gorengan ulen ketan. Ada pula seren taun, yakni upacara adat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, yang didahului oleh prosesi nyalin. Makanan seperti tumpeng, kelapa, tebu, ayam bakar, dan bubur merah putih menjadi bagian dari sajian khasnya.
Menjelang Ramadan, masyarakat Sunda melakukan tradisi munggahan, yaitu berkumpul makan bersama keluarga atau teman. Sebelumnya, dilakukan mandi bersuci, ziarah kubur, serta pembersihan hati dan pikiran. Suasana Ramadan juga diramaikan dengan ngadulag, tradisi menabuh bedug saat sahur, setelah tarawih, dan menjelang tadarus.
"Tradisi nganteran juga tetap hidup, yakni berbagi makanan menjelang hari raya. Makanan dikirim dari yang muda ke yang tua, atau kepada mereka yang bekerja di ladang dan anak-anak yang menimba ilmu di pesantren. Untuk bayi yang baru lahir, ada nenjrag bumi, yaitu ritual meletakkan bayi di atas alas bambu dan digerakkan secara simbolis agar tidak mudah terkejut." jelas A Ukus.
Dalam pernikahan adat, tradisi ngeyeuk seureuh dilakukan sebagai simbol permohonan restu kepada orang tua. Prosesi ini dilengkapi dengan saweran beras, sapu lidi, kain putih, serta pembelahan mayang dan buah pinang. Sedangkan pada acara khitan, anak-anak biasanya diarak menggunakan sisingaan, sebuah miniatur singa yang dibawa berkeliling sebagai hiburan dan penambah semangat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....