Era Media Sosial Jaga Lisan Jaga Jempol

  • 28 Feb 2026 19:39 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID - Sintang, Pentingnya menjaga lisan dan jempol di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial. Hal tersebut disampaikan Ustadz Suryadin saat menjadi narasumber dalam program Komunikasi Ramadan (KORMA) dengan tema Puasa di Era Media Sosial, Menjaga Lisan dan Jempol pada Jumat, 27 Februari 2026. Menurutnya, di era digital saat ini penyampaian informasi tidak lagi terbatas dari lisan ke lisan, melainkan dapat dengan mudah tersebar luas hanya melalui sentuhan dua jempol di layar gawai.

Ia menegaskan, meski hanya dengan dua jempol dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih fatal dibandingkan ucapan secara langsung. Ia juga menyoroti fenomena yang kerap terjadi ketika seseorang menyampaikan pernyataan di pagi hari, lalu pada sore harinya sudah harus melakukan klarifikasi karena ucapannya terlanjur menyebar luas dan menuai reaksi publik.

“Kalau lah dulu kita mengatakan suatu perkataan dengan satu dua orang karena tidak ada media tapi sekarang dengan satu tulisan atau satu ucapan di media sosial itu bisa viral dimana-mana ketahuan dimana-mana dan hampir tiap hari kita lihat dimana orang mengucapkan sesuatu di pagi hari lalu di sore hari dia klarifikasi atas ucapan yang telah viral dimana-mana”,katanya.

Dalam ceramahnya, Ustadz Suryadin turut mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang esensi ibadah di bulan Ramadan. Ia menyampaikan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan pahala selain rasa lapar semata. Begitu pula banyak orang yang bersemangat melaksanakan salat tarawih dan qiyamul lail, tetapi tidak memperoleh pahala dari ibadahnya selain rasa lelah dan begadang sepanjang malam.

“Betapa banyak orang yang ketika di bulan ramadan mereka berpuasa tetapi tidak ada pahala dari puasa mereka kecuali hanya rasa lapar yang mereka dapatkan. Begitupun banyak orang yang di bulan ramadan dia semangat sholat tarawih dia sholat malam tapi tidak ada pahala yang dia dapatkan dari sholat malamnya sehingga sholat taraweh berdirinya dia sepanjang malam itu melainkan hanyalah yang didapatkan itu rasa begadang aja semalaman”, ujarnya.

Peringatan tersebut, lanjutnya, menjadi refleksi bagi umat Islam agar tidak hanya fokus pada rutinitas ibadah secara lahiriah, tetapi juga menjaga sikap, ucapan, serta perilaku di ruang digital. Ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari perkataan dan tulisan yang dapat menyakiti orang lain. Tanpa kesadaran dan kehati-hatian dalam menjaga lisan serta jempol, bukan tidak mungkin ibadah yang dilakukan justru menjadi sia-sia. (RMD)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....