Ramadhan Momentum menghidupkan Kepekaan

  • 27 Feb 2026 15:35 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID - Sintang, Bulan Ramadhan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Hal tersebut disampaikan Ustadz Imadudin saat menjadi khatib Sholat Jumat di Masjid Nurul Jannah, Jalan Akcaya 2, Sintang, pada Jumat, 27 Februari 2026. Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Namun, ia mengingatkan, ketika hati kehilangan sensitivitas, ayat-ayat yang dibaca hanya menjadi suara tanpa makna dan rasa. Padahal Allah telah mengingatkan, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk mengingat Allah.

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta menjadi pembeda. Ramadhan diturunkan bersama al-quran tetapi jika hati telah kehilangan sensitifitas ayat-ayat yang dibaca hanya menjadi suara tanpa rasa padahal Allah telah mengatakan belum kah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk mengingat Allah”. Katanya.

Ustadz Imadudin mempertanyakan kondisi hati kaum beriman hari ini. Sudahkah hati kita tunduk? Sudahkah jiwa kita tergetar? Atau jangan-jangan kita terlalu sering berinteraksi dengan ibadah tanpa menghadirkan kesadaran? Ia menekankan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas, bukan transformasi. Ramadhan, menurutnya, adalah momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran spiritual yang mulai pudar oleh kesibukan dunia.

“Sudahkah hati kita tunduk sudahkah jiwa kita tergetar apakah kita terlalu sering berinteraksi dengan ibadah tanpa mengahdirkan kesadaran”. Ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa puasa Ramadhan diwajibkan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga tetapi untuk membangkitkan ketakwaan. Ia mengutip firman Allah, “Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus siyamu kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun,” yang berarti, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Taqwa jelasnya, adalah sensitivitas tinggi seorang hamba, sensitif terhadap dosa sekecil apa pun, terhadap waktu yang terbuang sia-sia, terhadap hak orang lain, serta terhadap bisikan nurani.

“Taqwa adalah sensitifitas yang tinggi seorang hamba, sensitif terhadap dosa sekecil apapun, sensitif terhadap waktu yang terbuang, sensitif terhadap hak orang lain dan bisikan nurani”. Jelasnya.

Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Menurutnya, jika pintu surga telah dibuka namun hati tetap tidak tergerak, maka ada yang salah dengan sensitivitas diri. Jika setan dibelenggu tetapi maksiat masih terasa biasa, maka ada yang perlu diperbaiki dalam kesadaran. Ramadhan, tegasnya, harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali rasa yang mati, rasa takut kepada Allah, harap akan ampunan-Nya, cinta kepada Al-Qur’an, serta kepedulian kepada sesama.RMD

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....