Mengenal Makanan Paniki Khas Sulawesi Utara
- 30 Jun 2026 16:09 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID , SIntang - Bagi pencinta kuliner ekstrem Nusantara, nama paniki tentu sudah tidak asing lagi. Hidangan tradisional khas Minahasa, Sulawesi Utara ini berbahan dasar daging kelelawar pemakan buah yang dimasak dengan kuah santan kental serta bumbu rempah pedas yang melimpah. Rempah-rempah yang kuat ini sengaja digunakan untuk menghilangkan aroma amis dan prengus khas daging kelelawar.
Namun, di balik keunikan rasanya, mengonsumsi daging kelelawar menyimpan potensi bahaya kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Secara medis, kelelawar dikenal sebagai reservoir (inang alami) dari berbagai virus zoonosis mematikan, seperti virus Nipah, Rabies, Ebola, hingga berbagai jenis Coronavirus. Proses pengolahan yang kurang matang atau kontak dengan darah satwa liar saat persiapan dapat memicu penularan infeksi serius. Paniki adalah istilah dalam Bahasa minahasa untuk menyebut kelelawar, khususnya jenis pemakan buah (codot). Dalam konteks kuliner, paniki adalah makanan ekstreem khas minahasa, Sulawesi utara, yang berbahan dasar daging kelelawar yang di masak dengan kuah santan atau bumbu rempah pedas seperti waku.
Paniki dipercaya memiliki rasa unik yang disukai oleh penduduk setempat. Rasanya yang khas dan berbeda, saat dimasak dengan rempah-rempah khas Sulawesi Utara, menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta kuliner yang ingin mencoba hal baru.
Meski terdapat pandangan berbeda, sebagian orang meyakini bahwa daging kelelawar memiliki sejumlah manfaat dan nilai gizi tinggi. Manfaat yang paling populer adalah kandungan alaminya yang dipercaya ampuh untuk mengurangi dan mengobati masalah kulit akibat alergi. Manfaat ini dapat dirasakan dengan mengonsumsi kelelawar liar, walau belum ada penelitian yang membuktikannya.
Namun, banyak orang telah mengaku merasakan khasiatnya. Selain menyembuhkan gatal dan alergi pada kulit, daging kelelawar juga dipercaya mampu menyembuhkan penyakit asma dan sesak napas. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa kitotefin dalam kelelawar yang mirip dengan obat asma yang digunakan dalam dunia medis.
Bagaimana cara mengolah Paniki ??
Tahap pembersihan: Bersihkan kelelawar dengan cara dibakar di atas api kecil untuk menghilangkan bulu-bulu halusnya hingga kulit menghitam. Cuci bersih, buang bagian kuku dan kelenjar lemak di ketiak sayap agar tidak berbau menyengat, lalu potong-potong.
Persiapan bumbu halus: Siapkan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit (sesuai selera), jahe, kunyit sedikit, dan kemiri. Haluskan seluruh bumbu tersebut.
Tumis bumbu: Tumis bumbu halus dengan sedikit minyak, tambahkan serai, daun jeruk, daun pandan, dan daun kunyit hingga harum dan matang.
Proses perebusan: Masukkan potongan paniki ke dalam tumisan bumbu. Aduk hingga berubah warna, lalu tuangkan santan dan air asam jawa.
Masak perlahan: Masak dengan api kecil hingga santan menyusut dan minyaknya keluar (proses ini bisa memakan waktu hingga 1-2 jam agar daging paniki empuk dan bumbu benar-benar meresap).
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Paniki_(makanan)
https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/paniki-cita-rasa-kelelawar-dalam-tradisi-minahasa/
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....