Mengenal Tembiluk,cacing kayu Kuliner Unik Suku Dayak

  • 04 Mei 2026 13:28 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang: Tembiluk adalah sebutan orang Dayak untuk hewan moluska bivalvia bernama Latin Bactronophorus thoracites. Di beberapa daerah, tembiluk punya sebutan yang berbeda tapi serupa.

Tembiluk adalah sejenis moluska, tapi malah kerap disebut cacing. Tembiluk hidup di dalam batang pohon bakau yang telah membusuk dan dikenal secara internasional sebagai wood-boring shipworm, karena kemampuannya melubangi kayu.Tubuhnya berwarna putih pucat, panjangnya bisa mencapai 30 sentimeter, dan memiliki semacam 'penutup' bernama palet di bagian mulutnya yang berfungsi untuk melindungi diri saat merasa terganggu.

Tembiluk menjadi hewan yang cukup digemari untuk dikonsumsi di sejumlah wilayah timur Indonesia. Tembiluk dikenal biasa dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan Utara, tepatnya Tidung dan Belusu. Selain itu, cacing tembiluk biasa hidup di perairan payau Indo Pasifik Barat.

Makanan yang ditemukan saat musim kemarau ini memiliki sejarah panjang dalam tradisi berburu dan bertahan hidup masyarakat pedalaman.Pada musim kemarau,ketika permukaan air sungai surut,para pencari tembiluk turun ke aliran sungai untuk menarik kayu-kayu yang telah lama terendam.

Setiap batang kayu berpotensi menyimpan rumpun tembiluk yang akan menjadi sumber protein bagi keluarga.Mengutip dari berbagai sumber ,tembiluk memiliki komposisi yang kompleks.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan ini tersusun dari 82,50% air,dengan kandungan proyein sebesar 8,21%,lemak 3,34% dan karbohidrat 3,67%,Nilai nutrisi ini menjadikan tembiluk sebagai sumber gizi alternatif dalam sistem pangan tradisional.

Kebiasaan mengkonsumsi tembiluk tidak sekedar soal pemenuhan kebutuhan gizi,melainkan berkaitan dengan praktik pengobatan tradisional.Masyarakat Dayak secara turun temurun menggunakan tembiluk sebagai pengobatan malaria,serta dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan dan produksi air susu ibu.

Metode konsumsi tembiluk sangat beragam.Sebagian masyarakat mengkonsumsinya langsung dalam keadaan mentah setelah dibersihkan,dengan rasa yang mirip kerang-kerangan dengan sentuhan asin dan manis.Beberapa varian pengolahan mencakup pemberian garam,penyedap,atau disajikan dengan cabai untuk meningkatkan cita rasa.

Meskipun memiliki sejumlah manfaat kesehatan,para ahli gizi tetap memperingatkan pentingnya konsumsi dalam batas wajar.Asupan berlebihan berpotensi menimbulkan resiko kesehatan,terutama terkait kadar kolesterol.

Sumber :

https://www.detik.com/kalimantan/kuliner/d-7929536/mengenal-cacing-tembiluk-makanan-unik-suku-dayak.

https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-6446522/cacing-tembiluk-yang-disebut-lezat-dan-kaya-manfaat.

https://www.liputan6.com/regional/read/5893167/tembiluk-kuliner-suku-dayak-di-tepian-sungai-kalimantan

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....