Menelusuri Asal-usul Dimsum dan Ragam Variannya
- 27 Feb 2026 14:37 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Dimsum dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Tiongkok yang populer di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hidangan ini identik dengan porsi kecil yang disajikan dalam keranjang kukusan bambu atau piring mungil, lalu dinikmati bersama teh hangat. Tradisi menyantap dimsum kerap dikaitkan dengan budaya yum cha, yakni kebiasaan minum teh sambil menikmati aneka makanan ringan dalam suasana santai dan kebersamaan.
Secara historis, dimsum diyakini berasal dari wilayah Guangdong, Tiongkok selatan, lalu berkembang pesat di Hong Kong. Di kota pelabuhan Guangzhou, kedai-kedai teh menjadi tempat persinggahan para pedagang dan pelancong. Mereka beristirahat sambil menikmati teh dan makanan kecil yang kemudian dikenal sebagai dimsum. Seiring waktu, tradisi ini menyebar luas dan menjadi bagian penting dari budaya kuliner Kanton.
Dalam bahasa Mandarin, dimsum sering diartikan sebagai “menyentuh hati”. Maknanya mencerminkan filosofi sajian kecil yang dibuat dengan perhatian pada rasa, tekstur, dan tampilan. Meski awalnya banyak menggunakan daging babi, di Indonesia dimsum telah beradaptasi dengan bahan yang lebih beragam, termasuk ayam, udang, dan sayuran, sehingga lebih sesuai dengan preferensi lokal.
Secara umum, dimsum terbagi dalam tiga kategori utama, yakni kukus, goreng, dan manis. Dimsum kukus menjadi yang paling populer. Salah satu yang paling dikenal adalah har gow, pangsit udang berkulit bening dan kenyal. Selain itu ada siu mai, pangsit dengan bagian atas terbuka berisi campuran daging dan udang. Xiao long bao juga tak kalah terkenal dengan isian daging dan kaldu yang meleleh saat digigit. Char siu bao menawarkan sensasi bakpao lembut berisi daging barbekyu manis, sementara cheung fun menghadirkan gulungan bihun kukus dengan aneka isian. Menu ekstrem seperti ceker ayam kukus juga menjadi favorit di banyak restoran dimsum autentik.
Untuk kategori goreng, terdapat lo bak gou atau kue lobak yang kerap disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek. Ham sui gok menghadirkan tekstur kenyal dari tepung ketan dengan isian gurih, sedangkan wu gok dikenal sebagai kroket talas berbalut renyah. Ada pula zhaliang, perpaduan mie kukus dan adonan goreng yang disiram saus gurih.
Sementara itu, dimsum manis menjadi penutup yang tak kalah menggoda. Bakpao custard dan bakpao telur asin menawarkan isian lembut dengan rasa manis legit. Egg tart yang berakar dari pengaruh Portugis juga populer sebagai camilan klasik. Selain itu, terdapat kue osmanthus yang harum, puding mangga yang segar, serta jian dui, bola wijen goreng berisi pasta kacang merah atau biji teratai.
Kini, dimsum tak hanya hadir di restoran khas Tiongkok, tetapi juga di hotel, kafe, hingga gerai kaki lima dengan berbagai inovasi rasa. Meski mengalami banyak adaptasi, esensi dimsum sebagai sajian kecil yang dinikmati bersama tetap bertahan. Lebih dari sekadar makanan, dimsum menjadi simbol kebersamaan dan tradisi yang terus hidup di tengah perkembangan dunia kuliner modern. (Lin)
Referensi:
https://food.detik.com/info-kuliner/d-6911357/asal-usul-dimsum-dan-macam-macamnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....