Karhutla Picu Risiko ISPA dan Asma, Warga Diminta Gunakan Masker N95
- 04 Sep 2026 15:46 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengandung partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diminta meningkatkan perlindungan diri dengan menggunakan masker yang sesuai.
Penanggung Jawab Medis PSC 119 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, dr. Ari Satriyo, mengatakan kandungan asap karhutla berbeda dengan asap biasa karena mengandung partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan. Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Indonesia Sehat, Jumat (4/9/2026).
“Karena asap karhutla ini sangat berbeda, kita kenal dengan PM2,5. Kandungan radikal ini bisa dicegah apabila kita memakai masker N95 atau KN95. Kalau menggunakan masker biasa atau masker bedah, memang bisa mencegah, tetapi kurang efektif,” ujar Ari.
Menurutnya, kelompok yang paling berisiko terdampak paparan asap antara lain bayi dan anak-anak. Paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan demam. Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila ketersediaan air bersih terbatas sehingga meningkatkan risiko penyakit lain seperti diare.
Sementara pada lansia, paparan asap dapat memicu kekambuhan asma, terutama bagi mereka yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit tersebut. Partikel asap juga berpotensi memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung sehingga membutuhkan perhatian lebih.
Ari mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker N95 atau KN95 dianjurkan, sedangkan masker N95 lebih diprioritaskan bagi pekerja yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga diminta melindungi mata dengan menggunakan kacamata. Paparan asap dapat menyebabkan mata kering dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
“Yang penting melindungi mata. Karena asap itu bisa membuat mata kering,” katanya.
Untuk melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, anak-anak dan lansia, Ari menyarankan keluarga menyiapkan satu ruangan yang relatif aman dari paparan asap. Ruangan tersebut perlu diminimalkan dari celah masuknya udara luar yang tercemar dan dapat dilengkapi pendingin ruangan untuk menjaga kenyamanan.
| Baca juga: Dampak Rokok bagi Kesehatan dan Kehidupan |
Ari menegaskan masyarakat perlu mengenali tanda-tanda gangguan pernapasan yang membutuhkan penanganan segera. Jika seseorang mengalami sesak napas berat hingga kesulitan bernapas, kondisi tersebut dapat menjadi keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan medis.
“Kalau timbul masalah sesak napas yang bisa mengancam nyawa, kemudian bibir sampai terlihat biru atau pucat, itu harus segera berobat,” tegas Ari.
Ia mengingatkan masyarakat tidak menunda mendapatkan pertolongan apabila gejala semakin berat. Dengan mengurangi paparan asap, menggunakan perlindungan yang tepat, dan segera mengakses fasilitas kesehatan saat muncul gejala serius, risiko dampak kesehatan akibat karhutla diharapkan dapat ditekan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....