Nyamuk Berkembang Pesat saat Kemarau, Begini Penjelasannya

  • 31 Agt 2026 15:54 WIB
  •  Sintang
Poin Utama
  • Peningkatan aktivitas nyamuk saat musim kemarau terutama disebabkan oleh suhu udara yang lebih hangat, bukan semata-mata karena genangan air.
  • Cuaca yang menghangat membuat nyamuk keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai mencari lokasi untuk bertelur dengan lebih agresif.
  • Suhu udara yang lebih tinggi mempercepat perkembangan siklus hidup nyamuk dan mendorong mereka untuk masuk ke kawasan permukiman termasuk rumah warga.

RRI.CO.ID, Sintang - Kemunculan nyamuk yang semakin banyak saat musim kemarau tidak selalu berarti lingkungan memiliki banyak genangan air. Suhu udara yang lebih hangat justru dapat membuat nyamuk lebih aktif sekaligus mempercepat perkembangan serangga tersebut.

Mengutip dari detikcom, Asisten Profesor Universitas Toronto Mississauga Rosalind Murray menjelaskan, cuaca yang menghangat membuat nyamuk keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai mencari lokasi untuk bertelur. Kondisi ini dapat membuat nyamuk masuk ke kawasan permukiman, termasuk rumah warga.

Suhu yang tinggi juga berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan nyamuk. Telur nyamuk dapat menetas lebih cepat ketika berada pada kondisi hangat. Perkembangan dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa pun berlangsung lebih singkat dibandingkan saat suhu rendah.

Dalam kondisi tertentu, nyamuk dapat membutuhkan sekitar 40 hari untuk berkembang dari telur hingga dewasa pada suhu 10 derajat Celsius. Sementara ketika suhu berada di atas 25 derajat Celsius, proses tersebut dapat berlangsung sekitar empat hari. Suhu hangat juga meningkatkan metabolisme nyamuk.

Kondisi tersebut membuat musim kemarau yang panas tetap dapat mendukung peningkatan aktivitas nyamuk. Terlebih, beberapa jenis nyamuk mampu bertahan ketika lingkungan mengalami kekeringan.

Peneliti entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, menyebut Aedes aegypti yang dikenal sebagai pembawa virus demam berdarah memiliki telur yang mampu bertahan dalam kondisi kering. Telur tersebut dapat tetap berada di tempat yang lembap meski air di sekitarnya mengering.

Ketika musim hujan kembali datang dan genangan air terbentuk, telur yang sebelumnya bertahan dapat melanjutkan siklus hidupnya. Kondisi itu dapat membuat kemunculan nyamuk berlangsung dalam jumlah lebih banyak dan hampir bersamaan.

Peningkatan suhu juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persebaran sejumlah spesies nyamuk. Spesies tropis yang berperan sebagai pembawa penyakit seperti demam berdarah, virus West Nile, dan Zika berpotensi menjangkau wilayah yang sebelumnya kurang sesuai bagi habitatnya.

Sumber : detik.com

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....