Mengenal Istilah Brain Rot
- 23 Mar 2026 23:08 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang- Pernahkah Kamu tiba-tiba menyadari sudah menghabiskan lebih dari dua jam hanya untuk scroll media sosial? Berbagai video drama pendek, meme absurd, hingga siaran langsung yang sebenarnya tidak terlalu penting, seolah membuat waktu berjalan tanpa terasa. Jika pernah mengalaminya, kamu tidak sendiri karena fenomena ini kini semakin banyak dirasakan dan dikenal dengan istilah brain rot.
Istilah brain rot menjadi semacam alarm bagi generasi digital yang kian akrab dengan konten singkat, cepat, dan menghibur, namun belum tentu berdampak baik bagi kesehatan otak. Kebiasaan mengonsumsi konten seperti ini secara berlebihan dapat memengaruhi cara kita berpikir dan berkonsentrasi.
| Baca juga: Mengenal Istilah PMOS, Nama Baru dari PCOS |
Mengutip Ruangguru.com, brain rot adalah kondisi ketika kemampuan berpikir seseorang terasa menurun akibat terlalu sering terpapar konten yang ringan, dangkal, dan berulang. Meski konten tersebut terasa seru dan menghibur, konsumsi tanpa batas dapat membuat otak menjadi kurang terlatih untuk berpikir kritis.
Secara harfiah, brain rot berarti “pembusukan otak”. Namun, istilah ini bukan merujuk pada kerusakan fisik, melainkan sebagai metafora untuk menggambarkan penurunan fokus, daya pikir, serta motivasi akibat pola konsumsi konten yang monoton.
Fenomena ini umumnya berkaitan dengan sejumlah kebiasaan digital, seperti menonton video pendek di TikTok atau Instagram Reels tanpa henti, scroll media sosial berjam-jam tanpa tujuan jelas, hingga terlalu sering menikmati meme, shitposting, atau drama online yang minim nilai manfaat. Selain itu, bermain game mobile yang bersifat adiktif namun kurang menantang secara intelektual juga turut berkontribusi.
Meskipun begitu, tidak semua konten hiburan berdampak buruk. Menonton video ringan atau bermain game sesekali justru dapat menjadi sarana relaksasi. Namun, persoalan muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara berlebihan hingga menggantikan aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, mempelajari hal baru, atau mengembangkan keterampilan.
Fenomena brain rot menjadi pengingat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih bijak dalam mengelola waktu dan konsumsi digital. Kesadaran untuk mulai mengatur kembali kebiasaan, meski secara bertahap, menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan otak di tengah derasnya arus informasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....