Puskesmas Tanjung Puri Luncurkan Program Gercep Stunting

  • 24 Feb 2026 10:01 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Prevalensi stunting di Kabupaten Sintang terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Sintang mencapai 31 persen. Angka ini naik dari 24,8 persen pada periode sebelumnya, bahkan jauh meningkat dibandingkan 18,7 persen pada tahun-tahun sebelumnya. Meski data 2025 belum dirilis, kondisi ini menjadi perhatian serius jajaran kesehatan, termasuk Puskesmas Tanjung Puri.

Kepala Puskesmas Tanjung Puri, dr. Andar Jimmy Pintabar, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan setengah-setengah. “Kalau sudah terjadi di atas usia dua tahun itu sudah sulit diperbaiki. Kalau kita menyebut anak itu stunting, itu kan ketika usia anak di atas dua tahun. Itu sudah susah diperbaiki keadaannya,” ujarnya. Karena itu, pihaknya lebih menekankan pada upaya pencegahan sejak dini, bahkan sebelum kehamilan terjadi.

Sebagai langkah konkret, Puskesmas Tanjung Puri meluncurkan program Gercep Stunting (Gerakan Pencegahan dan Penanganan Stunting). Program ini tidak hanya menyasar bayi dan balita, tetapi juga remaja putri, calon pengantin, hingga ibu hamil. “Program Gercep Stunting itu kita menyasar bukan hanya pada bayi balita, tetapi juga ibu hamil, calon pengantin bahkan remaja putri,” jelas dr. Andar.

Untuk remaja putri, dijalankan program CEMARA (Cegah Anemia pada Remaja). Seluruh siswi SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri menjalani pemeriksaan hemoglobin (HB). Bagi yang hasilnya rendah, langsung dirujuk untuk mendapatkan pengobatan. “Tablet tambah darah kita berikan kepada seluruh siswi SMP SMA, yang anemia maupun tidak anemia semuanya dapat, seminggu sekali minum. Kita titipkan ke sekolah, nanti sekolah yang membagikan,” katanya. Langkah ini dilakukan agar remaja putri terbebas dari anemia yang berisiko melahirkan bayi stunting di kemudian hari.

Sementara bagi calon pengantin, tersedia program KECAP PIRING (Konseling Calon Pengantin Pencegahan Generasi Stunting). Melalui program ini, calon pengantin pria dan wanita mendapatkan konseling serta pemeriksaan kesehatan komprehensif. “Kita lakukan konseling, pemeriksaan lengkap melibatkan lintas profesi, mulai dari dokter umum, bidan, perawat jiwa, psikolog, dokter gigi sampai dicek laboratorium dan melibatkan ahli gizi juga. Jadi kita cek secara komprehensif,” terang dr. Andar. Ia menambahkan, tujuan program ini adalah mempersiapkan pasangan sejak awal agar mampu melahirkan generasi sehat dan bebas stunting.

Upaya pencegahan berlanjut pada ibu hamil melalui program Bumil Cerdas (Ibu Hamil Cegah dan Sadar Stunting). Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan tenaga kesehatan lintas profesi. Bahkan setelah bayi lahir, intervensi tetap diberikan jika ditemukan kasus gizi kurang. Melalui program Bahrul Mazi (Penambahan Rutin Langsung Makanan Bergizi), ibu hamil dengan kekurangan energi kronis serta bayi balita gizi kurang mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. “Itu menggunakan PMT lokal. Karena seluruh puskesmas punya PMT lokal. Pemberian makanan tambahan dengan produk pangan lokal,” jelasnya.

Selain itu, Puskesmas Tanjung Puri juga membentuk KATI Stunting (Kader Aktif Kasus Stunting) untuk memperkuat pemantauan di lapangan. Kader-kader ini berperan aktif dalam mendeteksi dan mendampingi kasus stunting di masyarakat. “Inilah program-program inovasi dari Puskesmas Tanjung Puri untuk mencegah dan penanganan stunting,” tutup dr. Andar.

Dengan berbagai inovasi tersebut, diharapkan tren peningkatan stunting di Sintang dapat ditekan secara bertahap. Upaya yang dilakukan menunjukkan bahwa pencegahan harus dimulai sejak remaja, berlanjut ke masa pranikah, kehamilan, hingga tumbuh kembang anak, sehingga lahir generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan. (dby)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....