Sleep Apnea : Gejala, Penyebab dan Pengobatan

  • 19 Mei 2025 10:20 WIB
  •  Sintang

KBRN,Sintang: Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang terjadi saat pernapasan seseorang terganggu dengan adanya periode henti napas secara berulang pada saat tidur.

Gangguan ini bisa berlangsung dari beberapa detik hingga lebih dari satu menit, dan dapat terjadi puluhan hingga ratusan kali sepanjang malam.

Akibat dari gangguan ini, otak dan organ tubuh lainnya tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup.

Ketika napas terhenti, kadar oksigen dalam darah menurun drastis, memicu otak untuk membangunkan tubuh secara singkat agar napas bisa kembali normal.

Proses terbangun ini seringkali sangat singkat sehingga pengidapnya mungkin tidak menyadarinya, namun cukup untuk mengganggu siklus tidur dan kualitas tidur secara keseluruhan.

Faktor Risiko Sleep Apnea

Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, bahkan anak-anak. Tetapi faktor-faktor tertentu meningkatkan risikonya.

1. Obstructive sleep apnea

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kondisi ini, termasuk:

Memiliki saluran udara yang sempit. Beberapa pengidap mungkin mewarisi tenggorokan yang sempit. Amandel atau kelenjar gondok juga dapat memperbesar dan menghalangi jalan napas, terutama pada anak-anak.

Berjenis kelamin pria. Nyatanya, pria dua sampai tiga kali lebih berisiko mengalami gangguan tidur ini daripada wanita. Namun, wanita mengalami peningkatan risiko jika mereka kelebihan berat badan dan risiko mereka juga tampaknya meningkat setelah menopause.

Usia. Gangguan tidur ini terjadi lebih sering pada orang dewasa yang lebih tua.

Riwayat keluarga. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan sleep apnea berisiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.

Penggunaan alkohol atau obat penenang. Zat-zat ini mengendurkan otot-otot di tenggorokan yang dapat memperburuk kondisi ini.

Merokok. Perokok tiga kali lebih berisiko mengalami gangguan tidur ini daripada orang yang tidak pernah merokok. Hal ini karena merokok dapat meningkatkan jumlah peradangan dan retensi cairan di saluran napas bagian atas.

Mengalami hidung tersumbat. Jika mengalami kesulitan bernapas melalui hidung – baik dari masalah anatomi atau alergi – mungkin mengalami kondisi ini.

2. Central sleep apnea

Faktor risiko untuk bentuk sleep apnea jenis ini termasuk:

Lansia. Orang paruh baya dan yang lebih tua memiliki risiko gangguan tidur jenis ini yang lebih tinggi.

Berjenis kelamin pria. Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita.

Mengidap gangguan jantung. Memiliki gagal jantung kongestif meningkatkan risiko.

Menggunakan obat nyeri atau narkotika. Mengonsumsi obat opioid, terutama yang tahan lama bisa meningkatkan risiko kondisi ini.

Mengidap stroke. Stroke meningkatkan risiko munculnya kondisi ini.

Penyebab Sleep Apnea

Terdapat tiga jenis sleep apnea berdasarkan penyebabnya:

Sleep Apnea Obstruktif (OSA): merupakan jenis gangguan tidur yang paling sering yang disebabkan oleh adanya sumbatan jalan napas, biasanya karena jaringan lunak di bagian belakang tenggorokan yang kolaps semasa tidur.

Sleep Apnea Sentral (CSA): tidak ada sumbatan pada jalan napas pada tipe ini, tetapi jenis ini terjadi karena kegagalan otak untuk memberi pesan kepada otot pernapasan untuk bernapas, terkait dengan instabilitas pusat kontrol pernapasan yang ada di otak.

Sindrom Sleep Apnea kompleks: dikenal sebagai treatment-emergent central Sleep Apnea, yang terjadi ketika seseorang memiliki OSA dan CSA.

Gejala Sleep Apnea

Gejala yang bisa dialami pengidapnya adalah sebagai berikut:

Dengkuran keras.

Episode henti napas yang seringkali disadari oleh orang lain.

Terengah-engah dalam tidur.

Terbangun dari tidur dengan mulut kering.

Nyeri kepala saat bangun tidur.

Mengantuk saat siang hari.

Sulit konsentrasi.

Iritabilitas.

Sumber : Halodoc.com

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....