Alasan di Balik Karyawan Suka Sembunyikan Bakat Terbaiknya
- 06 Okt 2026 09:03 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Fenomena quiet covering kini tengah menjadi perhatian di dunia kerja modern. Berdasarkan informasi yang dilansir dari IDN Times, kondisi ini menggambarkan kecenderungan pekerja yang sengaja mengecilkan atau menyembunyikan keahlian utama mereka. Latar belakang fenomena ini umumnya bukan dipicu rasa malas atau minimnya dorongan berprestasi, melainkan kekhawatiran dipandang buruk, dianggap "cari muka", hingga potensi dibebani pekerjaan berlebih tanpa apresiasi yang sepadan.
Upaya membatasi diri ini kerap dipengaruhi oleh minimnya kenyamanan psikologis di lingkungan profesional. Ketika atmosfer kantor kurang mendukung keterbukaan, staf cenderung memperhitungkan risiko sosial sebelum menyampaikan gagasan atau kritik konstruktif. Dorongan untuk bermain aman ini kian kuat apabila seseorang memiliki trauma atas pengalaman buruk masa lalu, seperti ide yang diabaikan atau respons negatif dari rekan sekerja.
Guru Besar Hukum Konstitusi New York University, Kenji Yoshino, menjelaskan bahwa covering merupakan tindakan menekan aspek identitas pribadi demi menyesuaikan diri. Sementara itu, Profesor Harvard Business School, Amy C. Edmondson, menegaskan pentingnya psychological safety agar pekerja berani menyampaikan pandangan, pertanyaan, maupun mengakui kekhilafan tanpa bayang-bayang hukuman atau rasa malu.
Dampak buruk dari fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh individu, melainkan juga dialami oleh organisasi. Penyembunyian potensi secara berlarut-larut berisiko menutup peluang lahirnya inovasi, menyumbat ruang diskusi yang sehat, serta merugikan pemanfaatan bakat secara optimal. Dalam jangka panjang, perusahaan dapat kehilangan banyak kesempatan berharga hanya karena para pekerjanya enggan menyuarakan ide kreatif mereka.
Menanggapi fenomena ini, penyelesaiannya tidak cukup sekadar mendorong individu untuk tampil percaya diri. Manajemen perusahaan dituntut aktif membangun ruang kerja yang inklusif, menghargai setiap masukan, serta menjamin kebebasan berpendapat. Dengan terciptanya rasa aman dan suportif, setiap anggota tim dapat berkontribusi secara optimal tanpa perlu merasa cemas akan penilaian negatif lingkungan sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....