Dua Jenis Prayer Flags Tibet dan Simbol di Dalamnya

  • 01 Okt 2026 08:23 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Bagi yang belum mengenalnya secara dekat, semua prayer flags mungkin terlihat serupa. Padahal, tradisi Tibet mengenal dua jenis yang berbeda secara bentuk dan cara pemasangan, serta sejumlah simbol dan mantra yang masing-masing membawa makna spiritual yang spesifik.

Mengutip IDN Times, dua jenis prayer flags yang dikenal dalam tradisi Tibet adalah lungta dan darchor. Lungta adalah jenis horizontal berupa kain-kain kecil yang dipasang berjajar pada tali dan membentang di antara dua titik. Darchor adalah jenis vertikal berupa kain yang lebih besar dan dipasang pada tiang sehingga berdiri tegak dan dapat terlihat dari kejauhan. Sementara lungta lebih sering direntangkan di antara pepohonan atau bangunan, darchor umumnya menjulang di tanah terbuka atau puncak bukit.

Simbol kuda angin atau lungta yang menjadi ciri khas jenis horizontal ini memiliki makna yang kaya. Mengutip Mountainfilm, kuda angin melambangkan kecepatan dan kemampuan mentransformasi nasib buruk menjadi keberuntungan. Di punggung kuda angin tersebut biasanya terdapat tiga permata berapi-api yang disebut Triratna, melambangkan tiga pilar utama Buddhisme Tibet, yaitu Buddha, Dharma atau ajaran Buddha, dan Sangha atau komunitas biara.

Selain kuda angin, berbagai simbol lain juga kerap hadir. Menurut Tibet Tourism, empat sudut prayer flags sering menampilkan gambar empat hewan sakral, yaitu singa salju (snow lion), harimau, naga langit (sky dragon), dan garuda, yang melambangkan kebijaksanaan, kekuatan, keberanian, dan perlindungan. Prayer flags juga memuat mantra, dengan Om Mani Padme Hum sebagai yang paling umum ditemukan, yang berkaitan dengan Avalokiteshvara, Bodhisattva kasih sayang.

Satu hal yang membedakan prayer flags dari benda koleksi biasa adalah siklus penggunaannya. IDN Times mencatat bahwa kain prayer flags dibiarkan memudar dan rusak secara alami karena proses itu dianggap bagian dari siklus spiritual, di mana doa-doa yang tertulis di dalamnya telah dibawa oleh angin. Menurut Wikipedia, kain-kain lama diganti dengan yang baru setiap Tahun Baru Tibet atau Losar, dan kain lama diperlakukan dengan hormat dengan cara dibakar agar mantranya dapat "naik" ke langit melalui asap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....