Bahaya Mengintai Dibalik Tren Foto Jadul Pakai ChatGPT

  • 15 Sep 2026 19:57 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang: Belakangan ini lini masa media sosial, seperti Instagram dan TikTok, ramai dengan gambar atau foto pengguna dengan nuansa jadul atau vintage ala tahun 1980-1990-an.Dalam tren ini, foto pengguna bisa tampak mengenakan busana dan dandanan lawas. Selain itu, ruang yang menjadi tempat foto juga bisa terlihat seperti bangunan lawas.Foto jadul yang viral dibagikan pengguna di medsos itu pada dasarnya bukan foto asli. Akan tetapi, foto tersebut merupakan hasil olahan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).Pengguna hanya perlu mengunggah foto dan memasukkan perintah atau prompt ke aplikasi AI ChatGPT untuk mendapatkan tampilan retro, mulai dari gaya rambut, pakaian, hingga warna foto khas masa tersebut.

Terdengar mudah bagi pengguna, namun ternyata di balik proses yang terlihat sederhana itu, ada kebutuhan sumber daya yang tidak sedikit terutama air yang diperlukan untuk mendinginkan berbagai perangkat keras AI dan pusat datanya.Setiap kali pengguna meminta AI menghasilkan gambar, proses komputasi sebenarnya berlangsung di pusat data yang dipenuhi server dan membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk beroperasi.Dengan demikian, pembuatan gambar menggunakan AI tetap meninggalkan jejak fisik dan lingkungan, termasuk konsumsi energi dan emisi yang ikut berkontribusi terhadap pemanasan global.

Ketika pengguna meminta ChatGPT atau layanan AI lain membuat sebuah gambar, prosesnya tidak terjadi di smartphone. Permintaan tersebut dikirim ke server di pusat data.Di sana, prosesor khusus menjalankan model AI untuk memahami perintah, memproses gambar dan menghasilkan visual baru. Semakin kompleks tugasnya, semakin besar pula komputasi yang dibutuhkan.

Penelitian yang dilakukan Carnegie Mellon University dan Hugging Face menemukan bahwa konsumsi energi untuk menghasilkan gambar AI dapat berbeda sangat jauh, tergantung model yang digunakan. Dalam pengujian mereka, sejumlah model membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan model lainnya.Faktor seperti model, resolusi gambar dan metode generasi dapat memengaruhi kebutuhan energi.Jadi, tidak ada angka tunggal yang bisa digunakan untuk mengatakan bahwa setiap foto AI pasti membutuhkan listrik dalam jumlah tertentu. Yang jelas, satu gambar tidak berdiri sendiri.

Masalah muncul ketika jutaan orang ikut membuatnya. Bayangkan satu orang membuat satu foto AI. Tren viral biasanya juga membuat orang tidak berhenti pada satu gambar. Mereka mencoba beberapa prompt, membuat variasi, mengganti gaya, memperbesar resolusi, lalu mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang disukai.Nah, kalikan aktivitas tersebut dengan jutaan pengguna. Di sinilah kebutuhan komputasi mulai menjadi persoalan skala. Foto yang terlihat ringan di layar bisa berarti jutaan proses komputasi yang berlangsung di pusat data.Apalagi generative AI kini tidak hanya digunakan untuk membuat foto. Orang juga memakainya untuk membuat ilustrasi, video, animasi dan berbagai konten dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.

Bukan cuma listrik, ada satu kebutuhan AI lainnya yang jarang terlihat, air. Server di pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika bekerja. Panas tersebut harus dibuang agar perangkat tidak mengalami overheating.Air digunakan pusat data sebagai salah satu sistem pendinginan.Pusat data yang menggunakan sistem pendingin berbeda, berada di lokasi berbeda atau mendapatkan listrik dari sumber berbeda dapat memiliki jejak air dan karbon yang berbeda pula.

Dampak lingkungan AI juga tidak berhenti pada listrik yang digunakan ketika gambar dibuat. Pusat data membutuhkan GPU, server, chip, sistem penyimpanan dan perangkat jaringan. Semua perangkat tersebut harus diproduksi.Artinya, ada rantai panjang sebelum sebuah prompt menghasilkan foto di layar pengguna. Mulai dari pengambilan bahan mentah, produksi semikonduktor, pembuatan perangkat keras, pembangunan pusat data, transportasi hingga pengelolaan perangkat ketika sudah tidak digunakan.Dengan kata lain, istilah cloud computing sebenarnya agak menipu. Data memang terasa seperti berada 'di awan', tetapi AI bekerja di gedung-gedung nyata yang dipenuhi mesin. Dan mesin-mesin tersebut membutuhkan energi.

Pertumbuhan generative AI membuat konsumsi energi pusat data menjadi perhatian di berbagai negara. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global akan meningkat tajam hingga 2030, dengan AI menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kebutuhan komputasi.

Foto retro yang dibuat dengan AI hanyalah contoh kecil dari perubahan cara manusia menggunakan komputasi. Sekarang sedang tren foto, besok mungkin video, di kemudian hari mungkin konten 3D atau simulasi yang jauh lebih kompleks.

Namun,membuat satu atau beberapa foto AI tentu tidak bisa dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.Persoalannya ada pada akumulasi penggunaan dalam skala besar dan bagaimana industri AI mengelola kebutuhan sumber dayanya. Model AI yang lebih efisien dapat mengurangi kebutuhan komputasi. Pusat data yang menggunakan energi rendah karbon juga dapat menekan emisi. Teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan penggunaan air daur ulang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Karena itu, tanggung jawab bukan hanya berada pada pengguna yang membuat gambar. Perusahaan teknologi juga punya peran besar dalam membuat model, chip, pusat data dan sistem pendingin yang lebih efisien.Mereka perlu membuka lebih banyak informasi soal konsumsi energi dan air, meningkatkan efisiensi model, memakai energi rendah karbon, mengembangkan sistem pendinginan yang hemat air dan memperhitungkan dampak lingkungan pusat data.Tidak ketinggalan, pemerintah juga memiliki peran untuk memastikan ekspansi AI berjalan seiring dengan kapasitas listrik, ketersediaan air dan kondisi lingkungan setempat.

Risiko tren foto AI yang tak berkaitan dengan lingkungan tapi sama pentingnya bagi pengguna, yaitu data pribadi. Untuk membuat foto bergaya 1980-an atau 1990-an, pengguna biasanya harus mengunggah foto wajah ke sebuah layanan AI.Foto tersebut kemudian diproses oleh sistem perusahaan penyedia layanan. Namun, perlu memahami bahwa wajah adalah data biometrik yang berkarakter berbeda dari kata sandi. Kata sandi dapat diganti ketika bocor, sementara wajah tidak.Ketika seseorang mengunggah foto dengan wajah yang jelas, informasi tersebut dapat menjadi bagian dari data yang diproses oleh layanan AI, tergantung pada kebijakan privasi dan cara perusahaan mengelola data pengguna.Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena teknologi generative AI sekarang dapat menghasilkan gambar yang sangat realistis dengan menggunakan foto orang nyata.

Sebanyak 61 otoritas perlindungan data dan privasi yang tergabung dalam Global Privacy Assembly pada Februari 2026 mengeluarkan pernyataan bersama mengenai AI-generated imagery.Isinya, mereka memperingatkan risiko pembuatan gambar dan video realistis yang menampilkan individu yang dapat diidentifikasi tanpa pengetahuan atau persetujuan mereka.Pernyataan tersebut secara khusus menyoroti risiko anak-anak dan kelompok rentan, termasuk cyberbullying, eksploitasi dan pembuatan konten intim tanpa persetujuan. Risikonya bahkan tidak berhenti pada foto yang sengaja dibuat pengguna.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa foto wajah di medsos dapat menjadi sasaran sistem pengenalan wajah tanpa persetujuan.Tak bisa dipungkiri, teknologi ini memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang nyata. AI dapat meningkatkan produktivitas, membantu pekerjaan kreatif, mempercepat analisis dan membuka akses terhadap berbagai layanan digital.

Sumber :

https://thestance.id/di-balik-tren-foto-80-an-ada-risiko-lingkungan-dan-risiko-data-pribadi-yang-mengintai

https://inet.detik.com/science/d-8658417/viral-tren-foto-80an-pakai-chatgpt-diam-diam-bikin-bumi-makin-panas

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....