Bahaya Phishing, Hati-Hati Modus Penipuan Online

  • 01 Sep 2026 09:00 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Penipu tidak selalu datang dengan permintaan uang. Ada yang lebih dulu membangun percakapan, membawa nama lembaga yang dikenal, kemudian membuat seseorang merasa perlu mengikuti arahan di ujung telepon. Dalam situasi seperti ini, yang sedang dicari pelaku bisa jadi bukan uang, melainkan informasi yang dapat membuka jalan menuju kerugian berikutnya.

Mengutip artikel IDN Times berjudul “5 Penyebab HP Sering Dapat Panggilan dari Nomor Tak Dikenal”, vishing menjadi salah satu modus yang membuat seseorang menerima panggilan mencurigakan. Modus ini dilakukan melalui panggilan suara dengan cara menyamar sebagai pihak tertentu, seperti bank, kurir, kepolisian, atau penyelenggara undian, untuk mendapatkan informasi dari orang yang dihubungi.

Yang membuat modus tersebut perlu diwaspadai adalah cara pelaku membangun keyakinan. Mereka tidak harus langsung meminta sesuatu yang besar. Percakapan dapat dimulai dari informasi yang terdengar biasa, kemudian perlahan diarahkan pada permintaan tertentu. Semakin korban percaya kepada identitas yang digunakan, semakin mudah percakapan dibawa sesuai keinginan pelaku.

Rasa panik juga bisa menjadi celah. Kabar tentang rekening yang bermasalah, paket yang harus segera dikonfirmasi, atau informasi mengenai hadiah dapat membuat seseorang merasa harus mengambil keputusan saat itu juga. Padahal, tekanan untuk segera bertindak justru seharusnya membuat kita berhenti dan memeriksa kebenaran informasi tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, mengenali siapa yang berbicara menjadi sama pentingnya dengan mendengarkan apa yang disampaikan. Nomor telepon atau pengakuan penelepon belum cukup untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar berasal dari lembaga yang disebutkan. Verifikasi melalui kontak resmi menjadi cara yang lebih aman ketika informasi yang disampaikan menyangkut akun, transaksi, atau data pribadi.

Informasi keamanan juga memiliki batas yang jelas. Kode OTP, PIN, kata sandi, dan kode verifikasi tidak seharusnya diberikan kepada orang lain melalui percakapan telepon. Jika sebuah panggilan mulai mengarah pada permintaan informasi semacam itu, percakapan tidak perlu diteruskan hanya karena penelepon terdengar meyakinkan.

Kita juga tidak perlu merasa tidak enak untuk mengakhiri telepon ketika situasinya mulai mencurigakan. Penipu mengandalkan kesempatan untuk terus berbicara dengan calon korban. Menghentikan percakapan, kemudian mencari informasi melalui saluran resmi, memberi kita ruang untuk berpikir tanpa tekanan dari orang di ujung telepon.

Panggilan dari nomor yang tidak dikenal memang tidak selalu berarti penipuan. Namun, ketika pembicaraan disertai permintaan data rahasia, tekanan untuk segera bertindak, atau identitas yang tidak dapat diverifikasi, kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Penipuan semacam ini mengingatkan bahwa keamanan bukan hanya soal seberapa kuat sistem digital yang kita gunakan. Cara kita merespons sebuah percakapan juga ikut menentukan seberapa jauh orang lain dapat masuk ke informasi pribadi kita. Terkadang, keputusan paling aman justru sesederhana tidak melanjutkan pembicaraan dan memilih memeriksa semuanya terlebih dahulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....