Cara Merespons Kebosanan Berdasarkan Penyebabnya

  • 28 Agt 2026 09:18 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Ketika merasa bosan, respons paling umum yang dilakukan banyak orang adalah langsung mencari pengalih perhatian, membuka media sosial, menyetel video, atau beralih ke aktivitas lain. Namun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa cara terbaik untuk merespons kebosanan bergantung pada apa yang menjadi penyebabnya.

Mengutip JSTOR Daily, peneliti Erin C. Westgate menyarankan empat jenis respons yang dapat dipilih berdasarkan akar masalah kebosanan yang sedang dialami:

  • Mengatur tuntutan kognitif. Jika kebosanan muncul karena ketidaksesuaian antara tingkat kesulitan aktivitas dan kapasitas mental yang tersedia, penyesuaian dapat dilakukan dari sisi aktivitasnya. Aktivitas yang terlalu mudah bisa dibuat lebih menantang, misalnya dengan menetapkan batas waktu pengerjaan. Sebaliknya, aktivitas yang terlalu sulit bisa dipecah menjadi bagian-bagian lebih kecil yang lebih mudah ditangani.

  • Mengatur sumber daya kognitif. Jika persoalannya bukan pada aktivitas itu sendiri, melainkan pada kondisi mental yang sedang terkuras, langkah yang tepat adalah memulihkan kapasitas tersebut terlebih dahulu, misalnya melalui tidur yang cukup atau jeda istirahat sebelum kembali ke tugas yang bersangkutan.

  • Mengatur nilai tujuan. Jika kebosanan berakar dari rasa tidak bermakna, satu pendekatan yang efektif adalah mencoba menghubungkan kembali aktivitas tersebut dengan tujuan yang lebih besar. Misalnya, seorang pelajar yang bosan mengerjakan tugas yang terasa tidak relevan bisa mencoba melihatnya sebagai bagian dari perjalanan mencapai tujuan jangka panjangnya.

  • Beralih ke aktivitas lain. Dalam beberapa situasi, pilihan paling tepat adalah menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan dan mencari sesuatu yang berbeda. Akan tetapi, Westgate mengingatkan bahwa jika ini dilakukan sebagai kebiasaan rutin untuk menghindari tantangan kognitif, seseorang justru berisiko semakin mudah merasa bosan dalam jangka panjang karena kapasitas mentalnya tidak pernah dilatih.

Penelitian dari American Psychological Association juga mendukung pendekatan berbasis kognitif dalam mengelola kebosanan. Sebuah studi yang melibatkan siswa sekolah menengah menemukan bahwa mereka yang menggunakan strategi kognitif, seperti mengingatkan diri sendiri tentang relevansi jangka panjang sebuah tugas, mengalami tingkat kebosanan yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memilih strategi penghindaran, seperti mengobrol dengan teman atau mengalihkan perhatian pada hal lain.

Psychology Today menambahkan bahwa kebosanan sebenarnya dapat berfungsi sebagai motivator yang berguna apabila diperlakukan sebagai sinyal, bukan sekadar ketidaknyamanan yang harus segera dihilangkan. Ketika seseorang berhenti sejenak untuk bertanya mengapa ia merasa bosan alih-alih langsung melarikan diri dari perasaan itu, ia memberi dirinya sendiri kesempatan untuk membuat pilihan yang lebih terarah.

Pertanyaan pertama ketika kebosanan datang bukanlah tentang bagaimana cara menghilangkannya, melainkan mengapa rasa tersebut muncul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....