Jejak Kontaminasi Chernobyl pada Satwa Liar Eropa
- 11 Agt 2026 16:32 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Ketika reaktor nomor 4 di Chernobyl meledak pada April 1986, dampaknya tidak berhenti di perbatasan Uni Soviet. Awan radioaktif yang terbentuk menyebar ke seluruh Eropa dan jejaknya pada satwa liar masih terasa hingga empat dekade kemudian.
Mengutip JSTOR Daily, Swedia menjadi salah satu negara yang paling terdampak di luar kawasan Soviet. Tidak lama setelah ledakan, stasiun pemantauan Swedia mendeteksi lonjakan radioaktivitas yang tidak biasa di atmosfer. Ini menjadi momen pertama dunia mengetahui besarnya skala bencana tersebut, sementara pemerintah Soviet masih berusaha menutup-nutupi kejadiannya. Hujan radioaktif yang turun di Skandinavia mencemari vegetasi, sehingga rusa kutub serta rusa merah yang memakan lumut dan tanaman yang terkontaminasi ikut menyerap Cesium-137 dalam jumlah besar. Pada 1988, ribuan ekor rusa di Swedia terpaksa dimusnahkan karena kadar radioaktivitas dalam dagingnya melampaui ambang batas yang ditetapkan untuk konsumsi manusia.
Dampak yang serupa juga dirasakan di Eropa Tengah. Partikel Cesium-137 dari Chernobyl mengendap di tanah hutan dan diserap oleh jamur serta tanaman bawah tanah di kawasan tersebut. Menurut Physics World, babi hutan di Bavaria, Jerman, yang memangsa jamur truffle bawah tanah menjadi salah satu spesies yang paling lama menanggung kontaminasi ini, karena Cesium-137 terus bermigrasi ke bawah lapisan tanah secara perlahan dan terus-menerus memperbarui kontaminasi pada sumber pakan babi hutan tersebut.
Di kawasan yang paling parah terdampak, terutama di Belarus, Ukraina dan Rusia bagian barat, dampak terhadap satwa liar terasa lebih dramatis. Dalam beberapa minggu setelah ledakan, hutan pinus di sekitar reaktor berubah menjadi cokelat kemerahan akibat terpapar radiasi tinggi yang mematikan sel-sel tanaman secara masif. Kawasan ini kemudian dikenal sebagai "Hutan Merah" dan hingga kini masih menjadi salah satu titik dengan tingkat radioaktivitas tertinggi di dalam zona eksklusi.
Menariknya, respons ekosistem terhadap kontaminasi Chernobyl tidak sepenuhnya negatif. Tanpa kehadiran manusia di zona eksklusi selama hampir empat dekade, populasi satwa liar justru pulih dengan cara yang tidak terduga. Namun demikian, penelitian ilmiah mencatat adanya dampak biologis yang nyata pada tingkat genetis dan seluler, terutama pada burung dan mamalia kecil yang tinggal paling dekat dengan reaktor, termasuk penurunan keragaman genetik dan peningkatan tingkat mutasi.
Chernobyl mengubah cara ilmuwan memahami bagaimana kontaminasi radioaktif menyebar dan bertahan dalam ekosistem. Bukti yang terus terkumpul dari zona eksklusi dan kawasan-kawasan yang terdampak di Eropa menjadikannya “laboratorium alam” yang tidak direncanakan dan tidak pernah diinginkan siapa pun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....