Monogami pada Hewan, Lebih Kompleks dari yang Terlihat
- 31 Jul 2026 15:33 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Kisah-kisah tentang hewan yang setia seumur hidup kerap membuat kita terkesan. Namun, di balik gambaran yang tampak romantis itu, ilmu pengetahuan mengungkap bahwa monogami di dunia hewan jauh lebih kompleks dan bernuansa dari sekadar "setia pada satu pasangan."
Mengutip IFLScience, para ilmuwan membedakan monogami menjadi dua bentuk utama. Pertama adalah monogami sosial, yaitu ketika dua hewan membentuk ikatan jangka panjang untuk membesarkan keturunan, berbagi wilayah, dan mencari makan bersama, namun tidak menutup kemungkinan adanya perkawinan di luar pasangan. Kedua adalah monogami seksual, yaitu ketika dua individu benar-benar hanya kawin satu sama lain. Keduanya berbeda secara signifikan, dan banyak spesies yang dianggap "setia" sebenarnya hanya menjalankan monogami sosial.
Di antara mamalia, monogami adalah hal yang sangat langka. IFLScience mencatat bahwa hanya sekitar 3 hingga 5 persen dari seluruh spesies mamalia yang bersifat monogami. Berbeda jauh dengan burung, di mana sekitar 90 persen spesies menjalankan setidaknya satu bentuk monogami, umumnya karena membesarkan anak burung membutuhkan kerja sama aktif dari kedua induknya.
Alasan biologis di balik monogami berkaitan erat dengan keberhasilan reproduksi. Menurut IFLScience, monogami muncul ketika persaingan untuk mendapatkan pasangan rendah dan kelangsungan hidup keturunan lebih terjamin jika dirawat oleh dua induk sekaligus. Dalam kondisi seperti itu, tetap bersama satu pasangan justru memberikan keuntungan evolusioner yang lebih besar dibandingkan dengan berganti-ganti pasangan.
Sebaliknya, pada spesies di mana jantan bisa meningkatkan keberhasilan reproduksinya dengan mengawini banyak betina, atau di mana anak-anak tidak membutuhkan perawatan kedua induk, poligami justru menjadi strategi yang lebih menguntungkan secara evolusioner. Ini menjelaskan mengapa singa, gajah, dan sebagian besar primata tidak bersifat monogami.
Tikus padang rumput (prairie voles) menjadi salah satu spesies yang paling banyak diteliti dalam konteks ini. Menurut ZME Science, ikatan kuat mereka diperkuat oleh kimia otak yang secara aktif memberikan rasa nyaman dan kepuasan saat berada dekat dengan pasangannya. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa seleksi alam tidak sepenuhnya mendorong monogami pada prairie voles. Sifat monogami dan non-monogami tampak hidup berdampingan secara genetis dalam spesies ini, menunjukkan bahwa bahkan pada spesies yang paling dikenal setia pun, kesetiaan bukan sesuatu yang mutlak.
Fakta-fakta ini tidak mengurangi keistimewaan spesies-spesies yang memang mempertahankan ikatan seumur hidup. Justru sebaliknya, di tengah tekanan evolusioner yang sebetulnya lebih memihak poligami pada sebagian besar spesies, kesetiaan jangka panjang yang ditunjukkan oleh angsa, serigala, albatros, dan beberapa spesies lainnya menjadi fenomena yang semakin menarik untuk dipahami.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....