Segitiga Bermuda dan Penjelasan Ilmiah di Balik Legendanya

  • 23 Jul 2026 09:58 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, SintangSelama beberapa dekade, Segitiga Bermuda menjadi salah satu misteri paling terkenal di dunia. Wilayah laut antara Florida, Puerto Rico, dan Bermuda ini dikaitkan dengan hilangnya puluhan kapal dan pesawat secara misterius, sekaligus melahirkan berbagai teori yang berkembang jauh melampaui batas penjelasan ilmiah.

Mengutip dari BBC Science Focus, istilah "Segitiga Bermuda" pertama kali digunakan secara resmi pada 1964 oleh penulis Vincent Gaddis dalam sebuah artikel majalah. Namun, kisah-kisah tentang keanehan di kawasan tersebut sudah beredar jauh sebelumnya. Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 1945, ketika lima pembom Angkatan Laut Amerika Serikat yang dikenal sebagai Penerbangan 19 menghilang saat menjalani misi latihan di kawasan tersebut. Selama beberapa dekade berikutnya, berbagai kecelakaan kapal dan pesawat terus dikaitkan dengan kekuatan misterius Segitiga Bermuda.

Menurut Britannica, lebih dari 50 kapal dan pesawat disebut telah hilang secara misterius di kawasan ini. Salah satu yang paling membekas adalah menghilangnya kapal USS Cyclops pada 1918 bersama 306 penumpang di dalamnya, yang hingga kini tidak pernah ditemukan bangkai maupun penjelasannya secara resmi.

Berbagai teori bermunculan untuk menjelaskan fenomena ini, mulai dari yang masuk akal hingga yang sepenuhnya fantastis. Beberapa teori yang pernah beredar antara lain:

  • Gelembung metana dari dasar laut yang diduga bisa membalikkan kapal secara tiba-tiba. Akan tetapi, survei Geological Survey Amerika Serikat tidak menemukan bukti adanya pelepasan metana signifikan di kawasan tersebut dalam 15.000 tahun terakhir.

  • Anomali magnetik yang disebut menyebabkan kompas menyimpang. Meski tidak ada anomali serupa yang teridentifikasi, pada awal abad ke-20 kutub utara geografis dan magnetik memang bertepatan di kawasan ini, yang berpotensi menimbulkan kesalahan navigasi.

  • Gelombang besar akibat pertemuan badai, dengan simulasi laboratorium yang memperkirakan gelombang setinggi 30 meter. Namun, tidak ada bukti bahwa gelombang seperti itu benar-benar terjadi di Segitiga Bermuda.

  • Teori paranormal, mulai dari teknologi sisa peradaban Atlantis hingga lubang waktu menuju dimensi paralel, tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali.

Pada 1975, penulis Larry Kusche menerbitkan buku yang membantah legenda Segitiga Bermuda secara sistematis. Ia menemukan bahwa sebagian besar laporan tentang insiden di kawasan tersebut tidak akurat, dibesar-besarkan, atau tidak dapat diverifikasi. Kusche menyimpulkan bahwa jumlah insiden di Segitiga Bermuda tidak jauh berbeda dari kawasan laut lain yang memiliki volume lalu lintas serupa.

Penjaga pantai Amerika Serikat sendiri tidak mengidentifikasi adanya bahaya khusus di kawasan Segitiga Bermuda. Sebuah penelitian pada 2013 yang memetakan perairan paling berbahaya di dunia untuk pelayaran pun tidak memasukkan kawasan ini dalam daftarnya.

Legenda Segitiga Bermuda bertahan bukan karena data yang mendukungnya, melainkan karena manusia secara alami tertarik pada misteri. Begitu narasi itu terbentuk, setiap insiden baru di kawasan tersebut cenderung langsung dikaitkan dengannya. Kemajuan teknologi pelacakan laut dan udara dalam beberapa tahun terakhir perlahan mengikis daya pikat cerita ini, seiring semakin sulitnya insiden baru untuk tetap tidak terjelaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....