Bermuda, Pulau Kecil dengan Sejarah yang Panjang
- 23 Jul 2026 10:01 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Bermuda dikenal luas sebagai destinasi wisata mewah dengan pantai berpasir merah muda dan air laut biru jernih. Di balik citra itu, pulau yang terletak sekitar seribu kilometer dari pantai timur Amerika Serikat ini menyimpan sejarah panjang yang jauh lebih kompleks dari sekadar surga liburan.
Mengutip dari Britannica, Bermuda pertama kali tercatat dalam peta Spanyol pada 1511 dan penemuannya dikaitkan dengan pelaut Juan Bermúdez sekitar tahun 1503. Namun, pulau ini tidak pernah benar-benar dihuni hingga sebuah kapal milik Virginia Company bernama Sea Venture terhempas badai dan karam di perairannya pada 1609. Para penyintas kapal itulah yang kemudian menjadi cikal bakal permukiman permanen di Bermuda. Peristiwa inilah yang konon mengilhami William Shakespeare dalam menulis drama The Tempest.
| Baca juga: Mengenal Ikan Sidat |
Bermuda kemudian dikelola oleh Virginia Company dan penerusnya, Somers Islands Company, sebagai koloni korporasi. Sejak awal masa koloni, wilayah ini bergantung pada kerja paksa. Menurut JSTOR Daily, Bermuda bahkan menjadi koloni Inggris pertama yang mengekspor tenaga kerja Afrika, tiga tahun sebelum budak Afrika pertama tiba di Virginia. Seiring waktu, jumlah penduduk kulit hitam di pulau ini melampaui jumlah pendatang kulit putih. Perbudakan kemudian dikodifikasi secara hukum dan diwarisi secara turun-temurun hingga akhirnya dihapuskan oleh Kerajaan Inggris pada 1833.
Masa koloni awal Bermuda juga diwarnai oleh persidangan sihir (witch trials) yang mencekam. Pada dekade 1650-an, sepuluh perempuan dituduh memiliki kekuatan gaib. Empat di antaranya dieksekusi sebelum gelombang persidangan itu mereda. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakstabilan politik yang membuat kursi gubernur berganti dengan sangat cepat, serta maraknya sengketa hukum akibat bangkai kapal yang kerap ditemukan di perairan sekitar pulau.
Memasuki abad ke-20, ketegangan rasial yang terpendam akhirnya meledak. Britannica mencatat bahwa pada 1973, Gubernur Sir Richard Sharples terbunuh dan kerusuhan besar meletus pada 1977. Peristiwa itu mendorong pemerintah untuk mulai membongkar diskriminasi rasial yang selama ini berlangsung secara de facto. Partai Politik Buruh Progresif, yang mewakili warga non-kulit putih Bermuda, terus tumbuh pengaruhnya dan pada 1998 berhasil memenangkan pemilu untuk pertama kalinya.
Bermuda hingga kini tetap berstatus wilayah seberang laut Inggris dan secara resmi menolak kemerdekaan dalam referendum 1995. Pulau yang luasnya tidak lebih dari 54 kilometer persegi ini telah membuktikan bahwa ukuran geografis tidak selalu berbanding lurus dengan kompleksitas sejarah yang dimilikinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....