Mengenal Tren Quiet Thriving

  • 01 Jun 2026 14:34 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Dinamika dunia kerja modern tengah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Setelah sempat dihebohkan oleh tren Quiet Quitting kondisi di mana karyawan memilih bekerja sekadar sesuai deskripsi tugas resmi dan jam kerja tanpa overtime kini muncul evolusi baru yang disebut Quiet Thriving. Tren terbaru ini mengajak karyawan untuk secara proaktif mengambil kendali atas karir mereka sendiri dengan menetapkan batasan yang sehat, memprioritaskan efisiensi, dan fokus pada keseimbangan hidup tanpa perlu terjebak dalam burnout atau terburu-buru memutuskan untuk resign.

Kunci utama dari keberhasilan Quiet Thriving terletak pada bagaimana seorang karyawan mampu mengatur batasan kerja yang sehat secara cerdas dan strategis. Langkah pertama dapat dimulai dengan mengalihkan fokus pada hasil (output), bukan sekadar jam kerja. Dengan mengevaluasi kinerja berdasarkan pencapaian tugas dan efisiensi, karyawan dapat menunjukkan profesionalisme yang tinggi tanpa harus mengorbankan waktu pribadi. Selain itu, mengomunikasikan batasan dengan jelas kepada atasan dan rekan setim mengenai ketersediaan di luar jam kerja, seperti kebijakan tidak membalas email di akhir pekan, sangat krusial untuk diterapkan sejak awal.

Strategi penting lainnya adalah menguasai teknik negosiasi beban kerja. Karyawan dapat memanfaatkan perangkat bantu seperti matriks prioritas untuk memetakan tugas yang mendesak versus yang penting. Ketika mendapatkan limpahan tugas baru saat kapasitas kerja sudah penuh, karyawan dituntut untuk berani mengomunikasikan prioritas mana yang harus digeser. Alih-alih menghabiskan energi untuk tugas-tugas di luar lingkup kerja (job description) yang tidak dihargai, sisa waktu luang yang berhasil diselamatkan sebaiknya dialokasikan untuk mengembangkan keterampilan baru (upskilling) yang relevan demi mendukung karir jangka panjang.

Kendati membatasi diri dari lembur yang tidak produktif, karyawan yang menerapkan Quiet Thriving disarankan untuk tetap terlihat proaktif di lingkungan kantor. Menjaga visibilitas karir agar tidak meredup dapat dilakukan dengan tetap memberikan kontribusi maksimal, baik melalui ide-ide segar dalam rapat-rapat penting maupun keterlibatan dalam inisiatif strategis perusahaan. Dengan cara ini, manajemen tetap akan melihat nilai dan dedikasi karyawan tersebut sebagai aset berharga bagi perusahaan, meskipun mereka memiliki batasan waktu kerja yang ketat.

Pada akhirnya, fenomena ini meluruskan stigma negatif yang sempat melekat pada gerakan pembatasan jam kerja. Tren Quiet Thriving sama sekali bukan tentang menjadi pemalas atau acuh tak acuh terhadap tanggung jawab. Sebaliknya, gerakan ini mempromosikan cara bekerja yang cerdas, efisien, dan strategis demi menjaga kesehatan mental sekaligus memastikan keberlanjutan karir yang sehat di masa depan. Perusahaan pun kini dituntut untuk mulai beradaptasi dengan menghargai produktivitas nyata berbasis hasil ketimbang sekadar kehadiran fisik semata.

Sumber:

https://www.alodokter.com/mengenal-fenomena-quiet-quitting-di-dunia-kerja

https://www.halodoc.com/artikel/quiet-quitting-kerja-sesuai-porsi-hidup-seimbang?srsltid=AfmBOop4FixfMYmieMyRBwRZjeicii4ZDOa4P_OqsJtp8dov1gHgnuwx

https://amartha.com/blog/pendana/lifestyle/mengenal-quiet-quitting-tren-bekerja-secukupnya/

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....