Alasan Unik di Balik Tren Date Cancelled Medsos

  • 30 Mei 2026 20:42 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Platform Threads belakangan ini dihebohkan oleh tren baru bernama date cancelled atau pembatalan kencan. Melansir dari laporan CNN Indonesia, fenomena ini bukan sekadar cerita tentang gagal kencan biasa, melainkan momentum bagi para pengguna media sosial untuk membagikan alasan unik dan menggelitik mengapa mereka memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan calon pasangan. Alasan yang dibagikan pun beragam, mulai dari persoalan etika hingga hal-hal yang dianggap sepele namun memicu rasa ilfeel.

Berdasarkan data yang dilansir dari CNN Indonesia, banyak yang merasa terhubung dengan alasan-alasan pembatalan tersebut meski terkesan remeh. Beberapa contoh yang sempat viral di antaranya adalah rasa malas melanjutkan kencan hanya karena lawan bicara salah menuliskan kata baku, atau pengucapan istilah teknologi yang dianggap kurang keren. Hal-hal kecil dalam cara berkomunikasi lewat teks ternyata menjadi penentu besar dalam kelanjutan sebuah hubungan romantis di era digital saat ini.

Dari sudut pandang psikologis, masifnya tren ini dipicu oleh fenomena herd mentality. Mengutip artikel CNN Indonesia, kondisi ini terjadi ketika seseorang ikut mengadopsi sebuah perilaku atau tren hanya karena melihat banyak orang lain melakukan hal serupa. Ketika teman atau pengikut di media sosial mulai membagikan kisah kencan mereka, pengguna lain merasa bahwa tindakan tersebut valid, menarik, dan penting untuk diikuti agar tetap relevan dalam pergaulan digital.

Selain faktor sosial, keterlibatan hormon dopamin di dalam otak turut melanggengkan tren ini. Setiap kali pengguna mengunggah cerita dan mendapatkan respons berupa tanda suka (likes) maupun komentar, area kebahagiaan di otak akan aktif. Bagi mereka yang sekadar membaca tanpa ikut mengunggah, cerita-cerita humoris dan unik dari netizen lain tetap mampu memberikan hiburan serta memicu hormon kebahagiaan yang sama.

Meski sangat populer dan menghibur, tren date cancelled ini diprediksi tidak akan bertahan lama. Sebagaimana dikutip oleh CNN Indonesia, kejenuhan mulai muncul di kalangan netizen karena arus informasi yang terlalu repetitif. Sebagian pengguna bahkan mulai melontarkan kritik dan merasa terganggu, menunjukkan bahwa setiap tren media sosial memiliki batas titik jenuh ketika konsumsinya sudah dianggap berlebihan oleh publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....