Bukan Sekadar Menyembelih, Ada Makna Psikologis Dibalik Perayaan Iduladha

  • 26 Mei 2026 08:38 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Hari Raya Iduladha sering dipahami sebagai momen ibadah besar yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Namun di balik ritual tersebut, tersimpan makna psikologis yang jauh lebih dalam. Iduladha bukan hanya tentang daging yang dibagikan atau tradisi tahunan yang dijalankan, tetapi juga tentang proses batin manusia dalam memahami keikhlasan, pengorbanan, dan pengendalian diri. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi simbol kuat tentang bagaimana manusia diuji untuk menempatkan ketaatan kepada Allah di atas ego, rasa memiliki, dan keterikatan duniawi.

Secara psikologis, kurban mengajarkan manusia untuk melatih kemampuan melepaskan. Dalam kehidupan modern, banyak orang terikat pada ambisi, materi, gengsi, bahkan rasa takut kehilangan. Kurban menjadi refleksi bahwa tidak semua yang kita miliki harus dipertahankan demi kepentingan pribadi. Ada kalanya seseorang perlumengorbankan” ego, keserakahan, atau kenyamanan demi nilai yang lebih besar. Dalam psikologi, kemampuan melepaskan ini berkaitan dengan emotional regulation atau pengelolaan emosi, yaitu kemampuan seseorang mengendalikan dorongan diri demi tujuan yang lebih bermakna.

Selain itu, ibadah kurban juga memperkuat empati sosial. Saat daging kurban dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, muncul kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari memiliki, tetapi juga dari memberi. Banyak penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa tindakan berbagi dapat meningkatkan rasa bahagia, memperkuat koneksi sosial, dan mengurangi kecenderungan individualisme. Iduladha mengingatkan bahwa manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesama.

Iduladha juga menjadi momen refleksi diri. Sama seperti Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102–107 yang diuji keimanannya, setiap orang sejatinya memiliki “Ismail” dalam hidupnyasesuatu yang sangat dicintai, dipertahankan, atau sulit dilepaskan. Bisa berupa ego, ambisi berlebihan, atau kebiasaan buruk. Dari sudut pandang psikologis, kurban dapat dimaknai sebagai latihan mental untuk mengevaluasi apa yang selama ini menguasai diri, lalu belajar menempatkan nilai spiritual dan kemanusiaan di atas kepentingan pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....