Mengenal Istilah Lipstick Effect
- 25 Mei 2026 14:22 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Pernah mendengar istilah lipstick effect? Sekilas terdengar seperti tren dunia kecantikan, padahal istilah ini sebenarnya berkaitan erat dengan kondisi ekonomi dan perilaku konsumen saat menghadapi masa sulit.
Belakangan, istilah ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul unggahan yang menyoroti kondisi pusat perbelanjaan, restoran, hingga kafe di Indonesia yang tetap ramai dikunjungi masyarakat, meski nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS.
Dikutip dari Beauty Journal, fenomena lipstick effect didefinisikan sebagai teori ritel dan ekonomi yang menyebutkan bahwa konsumen yang sedang berada dalam kondisi keuangan terbatas cenderung membeli lipstik, produk makeup, dan barang mewah terjangkau lainnya dari merek mewah selama krisis ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa saat daya beli menurun, banyak orang tetap ingin merasakan kebahagiaan kecil melalui pembelian barang yang dianggap mampu meningkatkan suasana hati. Lipstik, parfum mini, kopi mahal, hingga dessert favorit sering kali menjadi pilihan karena dinilai masih “aman” untuk dibeli dibanding barang mewah bernilai besar.
Menariknya, tren ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 oleh seorang ekonom bernama Juliet Schor. Namun, istilah lipstick effect sendiri diciptakan oleh Co-founder Estée Lauder, Leonard Lauder. Kala itu, perusahaan kecantikan asal Amerika tersebut mengumumkan bahwa penjualan lipstiknya justru meningkat tajam pada tahun 2001, meskipun dunia sedang mengalami resesi ekonomi yang cukup parah.
Leonard Lauder menggunakan istilah lipstick effect untuk menggambarkan kecenderungan masyarakat membeli barang mewah berukuran kecil seperti lipstik ketika ekonomi sedang lesu atau mengalami resesi.
Menurut profesor ekonomi asosiasi Universitas Tufts, Edward Kutsoati, kebiasaan belanja di masa sulit kemungkinan terjadi karena produk kecantikan seperti lipstik dapat membuat seseorang merasa lebih baik dan lebih bahagia.
Fenomena ini pun kini dianggap relevan dengan kondisi masyarakat modern. Di tengah tekanan ekonomi, banyak orang tetap mencari cara untuk menikmati hidup, meski lewat hal-hal sederhana. Sebab bagi sebagian orang, membeli barang kecil yang disukai bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga cara menjaga perasaan tetap nyaman di tengah situasi yang tidak pasti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....