Post-Holiday Blues: Fisik di Kantor, Jiwa Masih Healing
- 13 Mei 2026 10:18 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Libur panjang memang selalu terasa menyenangkan—bangun tanpa alarm, kumpul keluarga, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa memikirkan deadline. Tapi begitu alarm kerja kembali berbunyi, banyak orang merasakan hal yang sama: badan sudah duduk rapi di kantor, tapi pikiran masih ingin santai seperti hari libur. Nah, fenomena ini dikenal sebagai post-holiday blues atau “sindrom masuk kerja setelah liburan”. Sebuah kondisi ketika seseorang merasa sulit kembali fokus, kurang semangat, bahkan cenderung lesu setelah menikmati waktu istirahat panjang. Ini bukan sekadar malas, melainkan respons psikologis yang cukup umum terjadi setelah perubahan ritme dari santai ke penuh tuntutan.
Secara psikologis, liburan memberi otak ruang untuk lepas dari tekanan, rutinitas, dan tanggung jawab harian. Saat kembali bekerja, otak harus beradaptasi lagi dengan jadwal ketat, tumpukan email, target, dan keputusan cepat. Perubahan mendadak inilah yang membuat banyak orang merasa “berat” di hari-hari pertama kerja. Menurut pakar psikologi, Ankita Guchait, MBPsS (Mental Health Practitioner) mengatakan perasaan ini sering muncul karena kontras tajam antara kebebasan saat libur dan struktur saat bekerja, sehingga motivasi menurun sementara waktu. Bahkan, beberapa orang mengalami sulit tidur, cemas ringan, atau kehilangan fokus selama masa transisi ini.
Menariknya, post-holiday blues juga bisa menjadi cermin kondisi kerja sehari-hari. Jika rasa berat kembali bekerja terasa berlebihan, bisa jadi bukan hanya karena liburan berakhir, tetapi juga karena rutinitas yang memang sudah melelahkan atau kurang memberi makna. Namun dalam banyak kasus, kondisi ini bersifat sementara. Tubuh dan pikiran hanya perlu waktu untuk “pemanasan ulang,” sama seperti mesin yang kembali dinyalakan setelah lama berhenti. Karena itu, penting untuk tidak menuntut diri langsung produktif 100 persen di hari pertama.
Agar transisi lebih ringan, para ahli menyarankan kembali bekerja secara bertahap: rapikan prioritas, mulai dari tugas kecil, atur pola tidur sebelum hari kerja dimulai, dan sisakan sedikit “mood liburan” dalam rutinitas, seperti mendengarkan musik favorit atau menikmati kopi santai sebelum bekerja. Intinya, jangan berharap diri langsung berubah dari mode rebahan ke mode produktif ekstrem dalam semalam. Jadi kalau hari pertama masuk kerja rasanya masih “setengah offline,” tenang saja, karena adaptasi itu wajar. Intinya, bukan seberapa cepat kembali ngebut, tapi bagaimana perlahan menemukan ritme lagi tanpa kehilangan kewarasan.
Referensi:
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....