Thrifting dan Kebangkitan Pasar Pakaian Bekas Global
- 30 Sep 2026 15:42 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Yang dulunya dianggap pilihan karena keterbatasan anggaran kini berubah menjadi pernyataan gaya hidup. Belanja pakaian bekas atau thrifting telah bertransformasi dari kebiasaan niche menjadi salah satu segmen paling dinamis dalam industri fashion global.
Mengutip 3 Wizard Clothing, nilai pasar pakaian bekas global mencapai 393 miliar dolar AS per kuartal pertama 2026, dengan Gen Z dan milenial bertanggung jawab atas 71 persen dari proyeksi pertumbuhan hingga 2030. Sebanyak 62 persen Gen Z di Amerika berbelanja pakaian bekas pada 2025, dan yang lebih signifikan, 60 persen keputusan pembelian pakaian baru kini sudah mempertimbangkan nilai jual kembali sebuah item, perilaku yang sepenuhnya baru dalam sejarah konsumsi fashion.
Platform seperti Depop, Poshmark, dan Vinted tidak lagi sekadar marketplace. Mereka telah berkembang menjadi komunitas dengan budaya tersendiri. Depop bahkan menunjuk Trends Spokesperson khusus dan mengumumkan akuisisi senilai 1,2 miliar dolar AS oleh eBay, yang mencerminkan betapa seriusnya industri memandang segmen ini.
Menurut Prelovedpod, survei konsumen secara konsisten menempatkan nilai uang, kualitas, dan keunikan produk jauh di atas kesadaran lingkungan sebagai alasan utama berbelanja pakaian bekas. Narasi keberlanjutan memang sering disebut dalam wacana publik, namun bukan faktor yang paling mendorong keputusan pembelian aktual. Orang berbelanja barang bekas karena barang yang ditemukan unik, harganya lebih terjangkau, dan kualitas pakaian lama sering kali lebih baik daripada produk fast fashion baru.
Di Indonesia, pasar thrifting lokal juga tumbuh, terutama di kota-kota besar. Pasar loak, bazaar vintage, dan toko thrift yang dikurasi bermunculan sebagai alternatif belanja yang menggabungkan aspek berburu barang unik dengan pengalaman komunitas yang tidak ditemukan di mal konvensional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....