Tren Zero Post Ubah Cara Gen-Z Bermedia Sosial
- 14 Agt 2026 08:37 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Tren media sosial terus berkembang, tak lagi hanya soal rajin mengunggah foto, video, atau membagikan aktivitas sehari-hari. Belakangan, muncul kebiasaan baru yang dikenal dengan istilah zero post, yakni kondisi ketika pengguna media sosial tetap aktif membuka aplikasi, melihat konten, atau berinteraksi seperlunya, tetapi nyaris tidak pernah mengunggah postingan di akun mereka. Fenomena ini mulai ramai dilirik, terutama oleh kalangan Gen Z, yang kini cenderung memaknai media sosial dengan cara berbeda, lebih privat, selektif, dan tidak selalu ingin tampil terbuka di ruang digital.
Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, penetrasi internet pada kelompok Gen Z mencapai 89,02 persen. Aktivitas komunikasi dan jejaring sosial juga menjadi salah satu alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan internet.
Istilah 'posting zero' sendiri dipopulerkan oleh Kyle Chayka melalui kolomnya di The New Yorker. Ia menggambarkan kondisi saat pengguna biasa mulai berhenti membagikan kehidupan sehari-hari mereka di media sosial.
Padahal sebelum ini, media sosial umumnya dipenuhi unggahan sederhana seperti foto sarapan, hewan peliharaan, atau momen berkumpul bersama teman. Namun, kini konten tersebut semakin jarang terlihat dan tergantikan oleh iklan, video tren berulang, hingga konten hasil kecerdasan buatan (AI).
Platform kini dipenuhi konten yang dikurasi secara algoritmik dan berorientasi komersial. Pengguna tidak lagi melihat unggahan dari orang terdekat, melainkan konten promosi, influencer, dan konten viral yang terus berulang.Kondisi ini membuat pengalaman bermedia sosial terasa semakin bising dan melelahkan. Banyak pengguna merasa kehilangan esensi awal media sosial sebagai ruang interaksi yang autentik.
Gen Z yang selama ini tumbuh bersama internet kini mulai menunjukkan tanda kelelahan digital.
Paparan konten tanpa henti, tekanan untuk tampil menarik, hingga ekspektasi sosial di dunia maya mendorong sebagian pengguna untuk mengurangi aktivitas, bahkan berhenti mengunggah sama sekali.
Fenomena ini tidak selalu berarti mereka sepenuhnya meninggalkan media sosial. Sebaliknya, banyak yang tetap menjadi 'penonton pasif' dengan mengonsumsi konten tanpa berpartisipasi aktif.
Selain itu, munculnya konten yang berbasis AI turut memperkuat tren zero posting. Sejumlah teori seperti 'dead internet theory' bahkan menyebut sebagian besar konten di internet kini tidak lagi dihasilkan manusia, melainkan oleh bot dan sistem otomatis.Meski masih menjadi perdebatan, persepsi ini cukup memengaruhi cara pengguna memandang keaslian konten yang mereka konsumsi.Akibatnya, keinginan untuk ikut berkontribusi dalam lingkungan digital yang dianggap semakin artifisial pun menurun.
Tren zero post tidak serta-merta menandai berakhirnya media sosial, tetapi menunjukkan pergeseran cara pengguna berinteraksi.
Jika sebelumnya media sosial menjadi ruang untuk berbagi secara terbuka, kini pengguna lebih selektif, bahkan memilih untuk tidak berbagi sama sekali.
Bagi Gen Z, keputusan untuk tidak mengunggah apapun bisa menjadi bentuk kontrol atas privasi, kesehatan mental, sekaligus penolakan terhadap lingkungan digital yang semakin padat dan komersial.
Sumber :
https://tekno.kompas.com/read/2026/04/04/15090047/apa-itu-zero-post-tren-baru-di-media-sosial-yang-ramai-dilirik-gen-z?page=all
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260326142906-277-1341499/dari-aktif-jadi-pasif-tren-zero-post-ubah-cara-gen-z-bermedia-sosial
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....