Bahaya Bullying di Lingkungan Sekolah yang Berdampak Terhadap Kesehatan Mental
- 29 Jul 2026 07:20 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Bullying adalah tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Seorang anak bisa melakukan bullying jika ia tidak percaya dengan dirinya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menutupi kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga bullying akan terjadi untuk menindas teman di sekolah yang memiliki kelebihan, namun kelebihan tersebut tidak dimiliki pelaku bullying.
Pelaku bullying biasanya mengintimidasi seseorang melalui sikap, perkataan dan tindakan. Namun, bukan hanya kekerasan terhadap fisik saja tetapi juga dapat menyerang psikis korban. Contohnya seperti mengejek, membicarakan korban hingga pengucilan yang dapat menyerang psikis. Pelaku bullying akan membuat anak merasa tidak nyaman sehingga kesehatan mental anak menjadi terganggu.
Pengaruh bullying yang bisa mempengaruhi kesehatan mental :
• Korban bullying biasanya menjadi pendiam
• Selalu merasa cemas dan takut
• Menjadi sangat pemurung
• Tidak bersemangat untuk belajar
• Sulit tidur
• Tidak percaya diri
• Prestasi akademis menurun
• Depresi
• Nafsu makan berkurang
• Memiliki keinginan untuk bunuh diri
Dampak kasus bullying bagi pelaku
Ternyata tidak hanya korban, tindakan ini juga berdampak buruk terhadap si perundung. Pelaku bully di usia remaja berisiko mengalami masalah psikologis jangka panjang. Gangguan tersebut bisa terbawa hingga dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.
Perundung dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak bahagia. Mereka pun cenderung tidak bisa mengendalikan emosinya, sehingga ia akan kesulitan membangun hubungan sosial maupun romantis.
Secara umum, pelaku bully dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pure bully dan bully-victim. Pure bully merupakan perundung yang tidak mempunyai pengalaman di-bully. Mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi dengan harga diri yang tinggi pula. Pure bully cenderung bersifat agresif, berwatak keras, impulsif, tidak punya empati, toleransi terhadap frustasi yang rendah, memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang lain.
Dengan merundung, pelaku pure bully akan beranggapan bahwa mereka berkuasa. Jika dibiarkan dan tidak ditangani, tindakan bullying ini dapat berubah menjadi kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal.
Sementara bully-victim ialah perundung yang dulunya di-bully. Kemungkinan mereka akan merasa tertekan, cemas, gelisah, kesepian, dan impulsif sampai usia dewasa. Mereka juga diketahui lebih sering merundung daripada pure bully.
Sama seperti korban kasus bullying, pelaku bully-victim juga berisiko memiliki pemikiran menyakiti diri sendiri, bunuh diri, depresi, kecemasan dan gangguan kepribadian antisosial.
Bullying adalah tindakan yang sangat merugikan. Bukan cuma bagi korbannya, melainkan juga pelakunya. Kalau korban lebih banyak mengalami efeknya terhadap kesehatan psikologis, dampak bullying bagi perundung tergolong ke dalam perilaku kriminal. Selain itu, pelaku pun bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif, temperamen, dan bersikap kasar terhadap orang lain.
Solusi untuk mengatasi bullying melibatkan peran aktif dari korban, orang tua, guru, serta lingkungan sekitar. Langkah utamanya adalah memberikan perlindungan pada korban, menegakkan aturan yang tegas, dan melaporkan tindakan tersebut.
Sumber Refrensi Utama : https://herminahospitals.com/
https://www.kompasiana.com/
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....