Kumpulan Karya Puisi Chairil Anwar Penuh Makna Mendalam
- 03 Jun 2026 23:27 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Siapa yang tidak mengenal tokoh terkemuka Chairil Anwar dengan karya puisi yang menyentuh dan penuh makna mendalam.
Sosok Chairil Anwar merupakan penyair kelahiran Kota Medan yang menciptakan banyak karya terkenal,khususnya puisi.
Salah satu karya puisi Chairil Anwar yang fenomenal adalah puisi berjudul “Aku”,melalui karyanya ini pula, dia mendapat julukan “Si Binatang Jalang”.
Puisi yang pertama kali dibacakan di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943 ini menggambarkan alam individualistis dan vitalitasnya sebagai seorang penyair.
Sampai akhir hidupnya, beliau yang berjasa dalam dunia sastra pun dikenang melalui peringatan Hari Puisi Nasional setiap tanggal 28 April.
Mengutip laman jendelasastra.com dan news.maranatha.edu berikut kami sajikan beberapa kumpulan karya puisi Chairil Anwar yang menyentuh dan penuh makna,cek disini:
- Puisi Dendam (Juli 1943)
Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak tampak
2. Puisi Kawanku dan Aku (Juni 1943)
Kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti.
3. Puisi Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku merdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
4. Puisi Kawan dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata…?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
5. Puisi yang Terhempas dan yang Putus
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
dating
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlaku beku 1949.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....