Budaya Digital Pengaruhi Tren Bahasa Gaul Gen Z
- 13 Mei 2026 10:57 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Generasi Z atau generasi kelahiran 1997 hingga 2012 sering kali menciptakan bahasa gaul (slang) kekinian untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya. Hal tersebut merupakan bagian dari budaya digital yang berkembang lewat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X. Istilah-istilah ini muncul dari tren internet, meme, hingga campuran bahasa Indonesia dan Inggris, lalu cepat populer di kalangan anak muda.
Beberapa istilah lokal yang sering digunakan antara lain mager (malas gerak), gabut (bosan), bucin (budak cinta), skena (sua, cengkrema, dan kelana) dan gercep (gerak cepat). Sementara itu, istilah global seperti FOMO (takut ketinggalan tren), slay (keren), rizz (pesona), dan no cap (jujur) juga banyak dipakai. Kata-kata ini biasanya digunakan dalam obrolan santai maupun konten media sosial.
Gen Z juga dikenal dengan gaya “bahasa Jaksel,” yaitu mencampur bahasa Indonesia dengan Inggris seperti healing, spill, toxic, hectic, atau glow up. Gaya ini dianggap mencerminkan pengaruh globalisasi dan identitas anak muda urban. Selain mengikuti tren, penggunaan bahasa ini juga menjadi cara untuk membangun kedekatan sosial.
Meski menarik, bahasa gaul sebaiknya digunakan sesuai situasi. Dalam konteks resmi seperti sekolah, pekerjaan, atau komunikasi formal, penggunaan slang berlebihan bisa kurang tepat. Karena tren terus berubah, istilah populer pun bisa berganti dengan cepat mengikuti perkembangan budaya internet.
Pada akhirnya, bahasa gaul Gen Z menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti zaman. Memahami istilah-istilah ini bukan hanya soal ikut tren, tetapi juga memahami cara generasi muda berkomunikasi di era digital.
Referensi :
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....