Sejarah Hari Film Nasional

  • 24 Mar 2026 13:05 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Setiap tanggal 30 Maret, Indonesia memperingati Hari Film Nasional, sebuah momentum untuk mengenang sejarah panjang perfilman Indonesia sekaligus memberikan apresiasi terhadap para sineas yang telah berkontribusi bagi industri kreatif tanah air. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa film bukan sekadar hiburan, tetapi media yang mampu merekam sejarah, menumbuhkan ideologi, dan membentuk identitas bangsa.

Awal Mula Perfilman di Indonesia

Dunia perfilman Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda. Film-film pertama yang diproduksi pada tahun 1926, seperti Loetoeng Kasaroeng dan Lily Van Shanghai, sepenuhnya disutradarai oleh orang asing. Produksi film pada masa itu lebih banyak dikuasai oleh kalangan Belanda dan Tionghoa, sehingga belum ada representasi karya yang benar-benar lahir dari perspektif Indonesia.

Meskipun begitu, fase awal ini menjadi fondasi bagi lahirnya industri film nasional. Banyak sineas muda Indonesia kala itu belajar dari teknik pembuatan film asing, sehingga ketika kesempatan muncul untuk membuat film sendiri, mereka sudah memiliki pengalaman dasar.

Tonggak Sejarah: Darah dan Doa

Titik balik perfilman Indonesia terjadi pada 30 Maret 1950, ketika film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) diproduksi oleh perusahaan film Indonesia Perfini dan disutradarai oleh H. Usmar Ismail, seorang tokoh yang kemudian dijuluki Bapak Perfilman Indonesia.

Film ini dianggap sebagai karya monumental karena menjadi produksi pertama yang sepenuhnya dikelola oleh orang Indonesia. Tanggal 30 Maret dipilih sebagai penanda Hari Film Nasional karena bertepatan dengan hari pertama pengambilan gambar film ini.

Darah dan Doa mengangkat cerita perjuangan ideologi dan nasionalisme para pejuang kemerdekaan Indonesia, khususnya pasukan Siliwangi. Film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga media edukasi yang merekam semangat perjuangan bangsa pasca-kemerdekaan.

H. Usmar Ismail dikenal sebagai sosok yang visioner dan berdedikasi tinggi. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 30 film dengan berbagai genre, mulai dari drama sosial hingga sejarah, yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan perfilman Indonesia. Dedikasinya membuatnya layak dijuluki Bapak Perfilman Indonesia.

Penetapan Hari Film Nasional

Pengakuan resmi terhadap Hari Film Nasional baru terjadi pada era Presiden BJ Habibie. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999, tanggal 30 Maret resmi ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Keputusan ini menegaskan pentingnya industri film sebagai bagian dari budaya dan identitas bangsa, sekaligus memberikan penghormatan kepada H. Usmar Ismail dan karya-karya film nasional. (Lin)

Referensi:

https://www.detik.com/jatim/berita/d-7266030/30-maret-diperingati-hari-film-nasional-simak-sejarahnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....