Toni, Pemuda yang Terus Melestarikan Tradisi Besampi

  • 12 Mei 2026 10:00 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, seorang pemuda asal Kayan Hilir, Desa Sungai Buaya, memilih tetap menjaga warisan budaya leluhurnya melalui tradisi Besampi. Tradisi sakral masyarakat Dayak itu hingga kini masih terus dilestarikan sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Petara, sosok Tuhan, Dewa, atau roh tertinggi yang dihormati.

Pemuda tersebut adalah Aga Adrianto Toni. Saat ditemui di Rumah Betang Ensaid Panjang pada Kamis, 7 Mei 2026, Toni tampak begitu fasih melantunkan Besampi dalam rangkaian adat penyambutan tamu.Di usianya yang masih muda, ia sudah memahami dan mempelajari Besampi sejak remaja melalui sang kakek yang menjadi sosok pertama mengenalkannya pada tradisi tersebut.

“saya memahami besampi dari usia 14 tahun, yang ngajarin besampi kakek saya,” ujarnya.

Bagi Toni, Besampi bukan sekadar ritual adat, melainkan juga doa yang penuh makna spiritual. Dalam setiap lantunan yang diucapkan, tersimpan harapan akan keselamatan, kesehatan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat yang berkumpul di rumah betang.

“didalam besampi itu kita menyampaikan supaya semua kita yang berkumpul di Betang terkhusus di Betang Ensaid panjang ini selalu diberkati diberikan kesehatan, keselamatan, diberi supaya kita, dijauhkan dari yang jahat jahat,” katanya.

Aga Adrianto Toni seorang pemuda Dayak yang sedang Besampi dalam acara penyambutan tamu di Rumah Betang Ensaid Panjang (Foto: Dokumentasi RRI Sintang/Sabina)

Tradisi Besampi biasanya digunakan dalam penyambutan tamu, upacara adat, hingga berbagai kegiatan penting masyarakat Dayak. Suara doa yang dilantunkan dengan irama khas menghadirkan suasana sakral sekaligus menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan Petara.

Bagi masyarakat Dayak, Besampi bukan hanya bagian dari adat istiadat, tetapi juga sarana komunikasi spiritual untuk memohon perlindungan, keberhasilan, hingga tolak bala. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat, khususnya suku Iban dan Seberuang.

Di tengah kekhawatiran akan mulai pudarnya budaya lokal akibat perkembangan zaman, keterlibatan generasi muda seperti Toni ini menjadi harapan baru bagi kelestarian tradisi Dayak. Proses pewarisan budaya dari kakek kepada cucu menunjukkan bahwa nilai adat, spiritual, dan penghormatan terhadap leluhur masih hidup dan terus dijaga hingga saat ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....