Prosesi Nugal/Namal Suku Dayak Desa
- 02 Okt 2026 11:30 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Prosesi Nugal/Namal saat Beuma Betaun pada Suku Dayak Desa merupakan tradisi perladangan yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar kegiatan menanam padi. Di dalamnya terdapat perpaduan antara pengetahuan pertanian, kearifan ekologis, gotong royong, pendidikan budaya, hubungan kekeluargaan, serta nilai-nilai adat.
Kepada RRI, Hendrikus Julung, budayawan Dayak Desa, mengatakan bahwa Nugal/Namal juga menjadi ruang pewarisan budaya antargenerasi. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan berladang, generasi muda memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai hubungan masyarakat dengan tanah, tanaman, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Oleh karena itu, dokumentasi prosesi Nugal/Namal penting dilakukan sebagai bagian dari upaya memahami dan melestarikan pengetahuan lokal serta identitas budaya Suku Dayak Desa.
Adapun persiapan sebelum nugal meliputi berbagai tahapan yang dilakukan masyarakat Suku Dayak Desa. Persiapan tersebut menjadi bagian penting sebelum pelaksanaan prosesi Nugal/Namal saat Beuma Betaun.
1. Menyiapkan benih
Menyiapkan benih padi, puli/ketan, bibit sayur-mayur, serta tanaman lain seperti Nyelik, Nyelik ketup, jawak, dan lain-lain.
2. Menyiapkan beras umpan
Menyiapkan beras umpan untuk pemakai pengempak.
3. Menyiapkan pengidup pengumpan
Menyiapkan pengidup pengumpan untuk lauk-pauk dan bahan Begelak.
4. Menyiapkan beram tuak
Menyiapkan beram tuak untuk ngirup ngecup.
5. Menyiapkan bansal benih dari kayu
Menyiapkan bansal benih dari kayu, yaitu buah timau, kedadai, pempan, cekalak atau akar kelait, serta akar ampur dengan jumlah ganjil, yaitu 3, 5, 7, atau 9. Misalnya, kayu 8 ditambah akar 1 menjadi 9.
6. Menyiapkan pelapik benih
Menyiapkan pelapik benih yang terdiri atas kayu ribu, pampik nasik, amun belabuh, tungku inai anan, pak mu/pencelap, kayu maliali, dan tapang kumai yang diikat dengan akar tempat.
7. Menyediakan puli penyipat tanah
Menyediakan puli penyipat tanah, yaitu ketan yang dimasak menggunakan bambu.
8. Melakukan penyipat tanah
Setelah bansal dan pelapik benih dibuat, kemudian dilakukan penyipat tanah untuk memanggil pulang gana/puyang gana.
9. Meletakkan bambu berisi tuak dan air putih
Pada keempat sudut bansal benih diletakkan empat buah bambu. Dua bambu berisi tuak dan dua lainnya berisi air putih sebagai pencelap.
10. Meletakkan benih padi
Setelah bansal dan pelapik benih siap, benih padi diletakkan menggunakan takin ke penuduk benih sambil besampi:
Ngadap ke matahari tenggelam: Sok dua tiga, empat lima enam, enam ngadap ke matahari padam, matahari tegelam, mata hari lesi, matahari mati madam ke kemata amak tekak, empangau alau, babi rusak, kijang pelanuk, kerak beruk, tikut cit, ngakrung lacau, sampuk senuruk, sapa te ngacau ngaru padi beras kami, punas ayas, nyau lesi, temuk baduk, pandam beleman.
Bebalik arah ke matahari tumbuh besampi agik: Sok dua, tiga, empat lima, enam tuuijuhhh ngadap ke matahari tumbuh, matahari masang, matahari bauh, numbuh kai keba rejeki, betuah belimpah, mansang senang, pengidup nyamai, idup lapang, numbuh kai padi bauh, padi baik, beteras berenas.
11. Menentukan padi baur
Padi yang didudukkan pertama kali disebut padi baur. Dengan memejamkan mata, kemudian padi disebur dengan badah (pinang sirih yang selentang tulang/sejajar) dengan kencur, lalu dilanjutkan dengan menyembelih ayam.
Benih yang sudah disembur kemudian ditekan dengan telapak tangan. Padi yang lengket di telapak tangan itulah yang ditanam pertama.
Jika banyak padi yang lengket di telapak tangan, hal tersebut menandakan rezekinya baik. Kemudian dilanjutkan dengan nanam benih padi baur di sekeliling penuduk benih, kemudian dilanjutkan dengan nanam serai, kunyit, kencur, dan bunga-bunga.
12. Membagikan benih padi
Selanjutnya dilakukan pembagian benih padi yang akan ditanam menggunakan cupai pemenih, dimulai dari padi baur. Setelah itu, dilanjutkan dengan padi lainnya, nyelik ketub/anjeli.
13. Mengisi benih dengan sayur-mayur
Setiap benih yang dibagikan juga diisi dengan benih sayur-mayur, seperti perenggi, timun, ngemalai, dan retak kusut (disebut dengan pelabat benih) atau ulun padi. Benih jawak ditaburkan di sekeliling ladang.
14. Melaksanakan prosedur nuggal
Prosedur nuggal dimulai dengan menghadap ke arah matahari tumbuh. Biasanya, kegiatan nuggal dilakukan oleh laki-laki, sedangkan pemenih dilakukan oleh perempuan/ibu-ibu.
Ada yang bertugas melayani masak. Bisik yang betugas maik pengiris dan Maik Pengulih ngau nyanka ke peluas pemaik lokasi nugal. Bisik te nyalaikan benih, biasanya oleh tuan rumah atau keluarga terdekat.
15. Menanam puli/ketan
Setelah padi habis ditanam, kegiatan dilanjutkan dengan nanam puli/ketan yang dibuat batas dari padi, disebut dengan peletang.
16. Menentukan arah penanaman ketan
Biasanya, jika ladang melewati sungai, posisi nanam ketan diarahkan ke hilir atau ngilik aik. Jika tidak ada sungai, penanaman diarahkan ke mata hari padam.
17. Melaksanakan mataikai benih/mengangkat benih
Setelah selesai nuggal puli pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan mataikai benih/mengangkat benih dengan cara:
a. Membuat pegelak/sesajen
Membuat pegelak/sesajen yang ditempatkan di wadah yang bernama rancak selipik dan rancak gantung. Isinya berupa puli penyipat tanah, nasi, ayam yang diambil semua organ tubuhnya, sayur-mayur, rokok, dan pinang sirih (Ilin). Semua bahan tersebut dimasak secara tersendiri.
Rancak untuk pulang gana disebut rancak selipik, sedangkan rancak lumpak/buku digunakan untuk digantung di penuduk benih.
b. Membuat atau membagi pegelak
Pegelak dibuat atau dibagi menjadi tujuh buah sambil besampi: Untuk pulang gana penguasa tanah, untuk antu utai rangkak ruak nakal bungkak tuk bagi kitak, untuk matahari panti manca, untuk bulan selutan tua, untuk bintang lemamang tiga, bagi (empangau alau, sampuk senuruk), dan untuk (babi rusak, kijang pelanuk, kerak beruk dan pipit banda, tikut cit).
c. Mengangkat benih
Selanjutnya, benih diangkat menggunakan takin sambil memejamkan mata, lalu besampi dengan menumpahkan air ke penuduk benih: bedaun ulih amun, besai ulih ujai, mansang ulih ranang.
d. Membawa benih pulang
Setelah itu, benih dibawa pulang dan dilanjutkan dengan berancak/begelak.
18. Menjalankan pantangan setelah nuggal
Setelah nuggal, terdapat pantangan selama tiga hari, yaitu tidak boleh pergi ke ladang.
19. Prosesi bagi yang tidak bisa melewati tahapan
Kalau tidak bisa melewati prosesi ini, tinggal didoakan dan disiramkan ke air kudus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....