Filosofi Jenang Sengkolo: Simbol Doa dan Penolak Bala dalam Tradisi Jawa
- 28 Sep 2026 20:09 WIB
- Sintang
Poin Utama
- Jenang Sengkolo atau Jenang Abang Putih merupakan makanan spiritual penting dalam ritual slametan dan bancaan tradisi Jawa yang berfungsi sebagai sarana komunikasi simbolis.
- Makanan ini terbuat dari bahan-bahan sederhana berupa beras, santan, gula merah, dan garam namun mengandung kedalaman makna filosofis.
- Jenang Sengkolo menyimbolkan makna tentang asal-usul kehidupan manusia, keselamatan, dan permohonan perlindungan dari berbagai marabahaya dalam pandangan budaya Jawa.
RRI.CO.ID,Sintang-Dalam kebudayaan Jawa, makanan tidak sekadar berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan fisik, melainkan juga sarana komunikasi simbolis antara sesama manusia, alam semesta, dan Tuhan. Salah satu bentuk kuliner spiritual yang memegang peranan sangat vital dalam berbagai ritual slametan atau bancaan adalah Jenang Sengkolo yang sering juga disebut Jenang Abang Putih (Bubur Merah Putih).
Dibuat dari bahan dasar yang sederhana beras ketan, santan, gula merah, dan sedikit garam, Jenang Sengkolo menyimpan kedalaman makna filosofis mengenai asal-usul kehidupan manusia, keselamatan, serta permohonan perlindungan dari segala bentuk marabahaya.
Etimologi
Nama "Jenang Sengkolo" berasal dari dua kata dasar dalam bahasa Jawa yaitu, Jenang yang berarti bubur yang bertekstur lengket. Tekstur ini melambangkan persatuan, kerukunan dan ikatan batin yang erat antar anggota keluarga dan masyarakat. Sengkolo yang berarti malapetaka, kesialan, musibah, bencana, atau gangguan yang bersifat lahiriah maupun batiniyah. Secara harfiah, Jenang Sengkolo adalah hidangan simbolis yang disajikan dengan niat utama "menolak atau membuang sengkolo" agar kehidupan seseorang atau suatu keluarga senantiasa dilimpahi keselamatan, ketentraman, dan keberkahan.
Simbolisme Warna
Secara visual, Jenang Sengkolo disajikan dalam satu wadah (takir dari daun pisang) yang memadukan dua warna kontras: merah (abang) dan putih. Perpaduan ini bukanlah kebetulan estetis semata, melainkan manifestasi dari pemikiran kosmologis Jawa. Jenang Abang (Merah) yang dibuat dari gula jawa, melambangkan unsur ibu (rahim, darah, indung telur). Warna merah mewakili kehidupan awal yang dinaungi oleh pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu dan juga mewakili daya fisik, raga, keberanian, dan semangat hidup di dunia nyata. Jenang Putih yang dibuat dari santan, melambangkan unsur ayah (kama putih atau sperma). Warna putih adalah melambangkan benih kehidupan yang memberikan garis keturunan dan perlindungan serta mewakili kesucian, kebersihan batin, kedamaian, dan sisi spiritual manusia. Penyatuan kedua jenang dalam satu wadah melambangkan pertemuan dua unsur kehidupan (Ayah dan Ibu) yang melahirkan diri manusia ke dunia.
Penggunaan dalam Tradisi
Jenang Sengkolo hampir selalu hadir dalam momentum penting siklus hidup masyarakat Jawa, diantaranya : Wetonan (Peringatan Hari Lahir): Disajikan saat peringatan hari lahir sesuai penanggalan Jawa untuk memohon keselamatan dan menyegarkan kembali energi spiritual diri. Pemberian atau Pergantian Nama: Dibuat ketika seseorang mengganti nama dengan harapan nama baru tersebut membawa keberkahan dan menjauhkan dari penyakit atau kesialan. Pindah Rumah / Pembukaan Usaha: Sebagai bentuk kula nuwun (permisi) kepada alam sekitar dan permohonan agar tempat baru bebas dari gangguan spiritual. Acara Mitoni (tingkeban) / Peringatan Kehamilan: Mengharap agar proses kelahiran bayi berjalan lancar dan bayi yang lahir terbebas dari ancaman bahaya. Selametan/ Bancaan tolak bala : Memanjatkan doa agar malapetaka (sengkolo) dapat segera diangkat.
Relevansi Sosial
Diluar dimensi ritualnya, pembuatan Jenang Sengkolo mengajarkan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa, yaitu : Sifat Gotong Royong: Jenang Sengkolo yang telah didoakan tidak dikonsumsi sendiri, melainkan dibagikan kepada tetangga terdekat. Hal ini merupakan konsep dari sedekah dan juga mempererat tali silaturahmi antar warga (guyub rukun). Nilai yang kedua adalah Kesederhanaan : Jenang Sengkolo tidak dibuat menggunakan bahan-bahan yang mahal. Cukup menggunakan beras, gula merah dan santan saja. Hal ini menggambarkan bahwa syukur kepada Tuhan tidak diukur oleh kemewahan, melainkan dari ketulusan hati. Yang terakhir adalah Pengingat: kehadiran Jenang Sengkolo menjadi pengingat agar manusia senantiasa mawas diri. Musibah (sengkolo) sering kali datang akibat kelalaian dan kesombongan. Dengan membuat jenang ini, manusia diajak untuk kembali ke fitrah yang bersih (jenang putih) dan penuh semangat kebaikan (jenang merah).
Jenang Sengkolo adalah bukti betapa adiluhungnya kebudayaan Jawa dalam mengemas ajaran hidup dan doa-doa spiritual ke dalam bentuk simbol gastronomi. Lebih dari sekadar hidangan tradisional, Jenang Sengkolo merupakan media untuk mengingat asal-usul diri, menghormati orang tua, menjaga keharmonisan dengan sesama, serta memohon perlindungan kepada Sang Maha Pencipta agar senantiasa terhindar dari segala bentuk malapetaka.
Sumber : https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7424946/filosofi-hingga-makna-bubur-sengkolo-untuk-tolak-bala
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....