Eling lan Waspodo : Kearifan Lokal Budaya Jawa dalam Menghadapi Bencana
- 28 Sep 2026 19:22 WIB
- Sintang
Poin Utama
- Budayawan Jawa Pakdhe Toyo dan Pakdhe Poeryanto menyampaikan bahwa bencana alam seperti El Niño dan kebakaran hutan merupakan peristiwa multidimensi yang menyentuh ranah fisik, sosial, dan spiritual dalam perspektif masyarakat Jawa.
- Kearifan lokal Jawa menawarkan panduan hidup bernilai adiluhung yang memadukan ketenangan batin, ikhtiar, dan kepedulian terhadap kelestarian alam dalam menghadapi krisis alam.
- Nilai-nilai kearifan lokal Jawa tetap menjadi pegangan hidup bagi masyarakat Pulau Jawa dan warga perantauan yang tinggal di ekosistem perairan dan hutan.
RRI.CO.ID, Sintang - Berbagai bencana alam mulai dari El Nino hingga ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar fenomena meteorologi biasa. Bagi masyarakat Jawa, bencana adalah peristiwa multidimensi yang menyentuh ranah fisik, sosial, hingga spiritual. Dalam menghadapi situasi krisis tersebut, kebudayaan Jawa menawarkan panduan hidup bernilai adiluhung yang memadukan ketenangan batin, ikhtiar, dan juga kepedulian terhadap kelestarian alam.
Hal tersebut disampaikan oleh Budayawan Jawa, Pakdhe Toyo dan Pakdhe Poeryanto dalam acara Ragam Budaya Jawa RRI Sintang pada hari Kamis, tanggal 24 September 2026. Nilai-nilai kearifan lokal ini tetap menjadi pegangan hidup, baik bagi masyarakat yang bermukim di Pulau Jawa maupun warga perantauan yang hidup bersisian dengan ekosistem perairan dan hutan.
Nrimo lan Eling
Kiat menghadapi bencana tidak dimulai dari kepanikan atau amarah, melainkan melalui penataan batin. Masyarakat diajak untuk menerima keadaan dengan lapang dada (Nrimo) tanpa mengeluh berlebihan, saling menyalahkan dan menebarkan ketakutan. Serta selalu mengingat Tuhan (Eling), memahami momentum bencana untuk mawas diri atas perbuatan yang merusak keseimbangan alam dan waspada dalam menghadapi ujian diberikan.
Selametan lan Tirakatan
Secara tradisi,masyarakat Jawa percaya bahwa bencana harus dihadapi bersama-sama melalui ritual keselamatan dan doa komunal seperti selametan/bancaan tolak bala, yaitu memanjatkan doa keselamatan dengan menyertakan sajian simbolis seperti tumpeng atau jenang sengkolo yang menjadi sarana permohonan agar malapetaka/sengkolo segera diangkat. Sedekah bumi bertujuan untuk memohon keberkahan dan bantuan pada saat musim paceklik/kemarau. Serta tirakatan yang berupa memanjatkan doa bersama di tempat ibadah dalam rangka menyerahkan diri kepada Tuhan.
Gotong Royong
Sebagai mahluk sosial, masyarakat Jawa harus mengedepankan semangat gotong royong dan guyub rukun. Kita diingatkan untuk tidak saling menyalahkan, namun bahu-membahu dalam menghadapi bencana. Seperti membagikan masker kepada sesama dan tidak membakar lahan sembarangan.
Laku Prihatin
Kebudayaan Jawa juga mengajarkan laku prihatin (pengendalian diri) sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap kondisi bencana saat ini. Yaitu, dengan membatasi aktivitas yang tidak perlu diluar ruangan dan juga menjaga ketahanan tubuh dengan meminum ramuan jamu tradisional seperti wedang jahe, beras kencur dan kunyit asam serta memperbanyak konsumsi air putih.
Memayu Hayuning Bawono
Falsafah Jawa ini menegaskan bahwa tugas utama manusia di bumi adalah mempercantik dan melestarikan alam, bukan merusaknya. Setelah masa krisis atau bencana berlalu, komitmen terhadap alam dilanjutkan melalui aksi pemulihan, seperti penghijauan kembali (reboisasi) dan menanami pekarangan rumah dengan pepohonan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....