Nugal Namal, Tradisi Sarat Nilai Budaya Dayak Desa
- 21 Sep 2026 12:21 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Prosesi Nugal atau Namal dalam tradisi Beuma Betaun masyarakat Suku Dayak Desa bukan sekadar kegiatan menanam padi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Tradisi ini memadukan pengetahuan pertanian, kearifan lokal, gotong royong, hubungan kekeluargaan, serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Hal tersebut disampaikan Budayawan Dayak Desa, Hendrikus Julung, saat mengisi program Ragam Budaya Dayak Desa di Pro 1 RRI Sintang, Minggu, 20 September 2026. Ia menjelaskan bahwa Nugal atau Namal merupakan salah satu tahapan dalam proses Beuma Betaun atau kegiatan berladang tahunan yang masih memiliki makna penting bagi masyarakat Dayak Desa.
“Nugal bukan hanya kegiatan menanam padi, tetapi di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kekeluargaan, kekompakan, saling membantu dan gotong royong yang terus dipelihara oleh masyarakat,” ujar Hendrikus Julung.
| Baca juga: Tarian Tradisional Khas Jawa |
Dalam tradisi Beuma Betaun, Nugal merupakan salah satu tahapan setelah sejumlah proses sebelumnya, mulai dari manggul, nebas, nebang, ngeladak, nunu, nayak hingga akhirnya nuggal atau namal, kemudian dilanjutkan dengan mabau dan ngetau. Secara umum, kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjaga hubungan mereka dengan alam dan lingkungan sekitar.
Nugal atau Namal juga menjadi ruang pewarisan budaya antargenerasi karena anak-anak dan generasi muda dapat belajar secara langsung mengenai tahapan berladang, penggunaan alat, pemilihan benih hingga aturan adat yang menyertainya. Proses belajar secara langsung tersebut membuat pengetahuan lokal tidak hanya disampaikan melalui cerita, tetapi juga melalui pengalaman di lapangan.
Selain itu, kegiatan Nugal memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong dalam kehidupan masyarakat Dayak Desa. Pekerjaan di ladang yang cukup berat dilakukan secara bersama-sama sehingga hubungan sosial, solidaritas dan kekeluargaan antaranggota masyarakat semakin kuat.
Menurut Hendrikus, nilai kebersamaan juga terlihat dari pembagian peran dalam proses Nugal. Laki-laki umumnya bertugas melakukan kegiatan nuggal, sementara perempuan berperan dalam mempersiapkan dan membagikan benih serta membantu berbagai kebutuhan selama kegiatan berlangsung.
“Dalam Nugal itu bukan hanya siapa yang menanam, tetapi semua memiliki peran, ada yang menugal, ada yang memenih, ada yang menyiapkan makanan dan ada yang membantu kebutuhan lainnya. Dari situlah terlihat kebersamaan dan kekompakan masyarakat,” katanya.
Tradisi ini juga mencerminkan pengetahuan masyarakat Dayak Desa dalam memahami lingkungan dan perubahan musim. Pengelolaan lahan, pemilihan waktu menanam, pemanfaatan tanaman serta berbagai tahapan dalam berladang merupakan pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman masyarakat secara turun-temurun.
| Baca juga: Mengenal Ragam Lampion |
Dalam pelaksanaannya, Nugal juga memiliki dimensi adat dan spiritual yang tata caranya dapat berbeda antara satu komunitas atau kampung dengan komunitas lainnya. Karena itu, pemahaman mengenai ritual, pantangan, doa, simbol maupun aturan adat dalam tradisi tersebut perlu diperoleh secara langsung dari tokoh adat, tetua masyarakat dan pelaku tradisi.
Persiapan sebelum Nugal juga dilakukan secara khusus, mulai dari menyiapkan benih padi dan tanaman lainnya, beras umpan, bahan makanan, minuman adat, hingga berbagai perlengkapan yang digunakan dalam proses adat. Setelah seluruh persiapan selesai, kegiatan Nugal dilakukan sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam masyarakat Dayak Desa.
Keberadaan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi Nugal atau Namal. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi dan perubahan pola mata pencaharian, keterlibatan generasi muda serta dokumentasi budaya diperlukan agar pengetahuan lokal tersebut tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Hendrikus Julung menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi Nugal tidak hanya bergantung pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada kemauan generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam budaya yang diwariskan leluhur. “Kalau generasi muda ikut terlibat, mereka akan memahami bahwa Nugal bukan hanya menanam padi, tetapi ada pengetahuan, ada kebersamaan dan ada nilai budaya yang harus terus dijaga,” pungkasnya.
Dengan demikian, Nugal atau Namal tidak hanya dapat dipahami sebagai aktivitas pertanian untuk menghasilkan bahan pangan, tetapi juga sebagai ruang untuk menjaga identitas budaya, memperkuat hubungan sosial dan mewariskan pengetahuan lokal. Tradisi Beuma Betaun menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Dayak Desa menjaga hubungan antara manusia, alam, keluarga dan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....