Mengenal Upacara Adat Batagak Penghulu di Minangkabau

  • 08 Mei 2026 21:18 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Suku Minangkabau memiliki banyak tradisi dan upacara adat yang masih dijaga hingga sekarang. Masyarakat dapat mengenal beragam adat tersebut melalui penjelasan para budayawan Minang dalam acara Ragam Budaya Minang.

Hal itu disampaikan Ketua Bundo Kanduang Kabupaten Sintang, Dra. Hj. Ana Herni, bersama Ketua Bidang Seni Bundo Kanduang Kabupaten Sintang, Dra. Nurhayati. Keduanya hadir dalam acara Ragam Budaya Minang di Pro 1 RRI Sintang, Jumat, 8 Mei 2026.

Hj. Ana Herni menjelaskan beberapa upacara adat di Minangkabau, seperti batagak penghulu, baralek atau pesta perkawinan, serta turun mandi. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minang hingga saat ini.

Menurut Hj. Ana Herni, setiap suku di Minangkabau terdiri dari beberapa keturunan ibu yang tinggal di rumah gadang. Karena itu, diperlukan sosok penghulu yang memiliki sifat beradat, berakhlak baik, dan agamis untuk menjadi teladan masyarakat.

“Batagak penghulu dilakukan untuk mengangkat pemimpin kaum yang bertugas membina dan mengayomi anggota sukunya,” kata Hj. Ana Herni. Ia mengatakan penghulu memiliki tanggung jawab menjaga pusaka dan mempererat hubungan antaranggota kaum.

Nurhayati menambahkan, sebelum pengangkatan penghulu dilakukan, keluarga besar terlebih dahulu mengadakan musyawarah. Selain menentukan calon penghulu, keluarga juga memilih hari baik untuk pelaksanaan acara adat tersebut.

Menurutnya, pengangkatan penghulu bisa berlangsung satu sampai dua minggu karena melibatkan keluarga besar dan kaum lainnya. Masyarakat biasanya memotong kerbau dan memasang tanduknya di rumah gadang sebagai simbol kebesaran kaum.

Dalam prosesi tersebut, masyarakat juga mengenakan pakaian adat Minangkabau lengkap sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur. Suasana kebersamaan sangat terasa karena seluruh keluarga dan kaum ikut terlibat dalam acara adat tersebut.

Setelah prosesi pengukuhan selesai, masyarakat menggelar makan bersama yang dikenal dengan istilah makan bajamba. Hidangan disajikan di atas nampan besar dan dinikmati bersama-sama sebagai simbol persatuan dan kekeluargaan.

“Setelah seseorang diangkat menjadi penghulu dan bergelar datuk, maka namanya tidak lagi dipanggil secara langsung karena ada aturan adat yang harus dihormati,” jelas Nurhayati. Ia berharap masyarakat tetap menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau di mana pun berada.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....