Sarak Semanang, Pisah sementara Pasangan Suami Istri
- 27 Apr 2026 20:37 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Siaran Ragam Budaya Dayak Iban yang disiarkan dari studio Programa 1 RRI Sintang pada Selasa, 21 April 2026, mengangkat salah satu tradisi unik masyarakat Dayak Iban yakni sarak semanang. Dalam kesempatan tersebut, narasumber Wat Dimu menjelaskan bahwa sarak semanang merupakan kebiasaan yang cukup sering terjadi pada masa lalu, khususnya sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, bahkan jauh sebelumnya. Tradisi ini umumnya dialami oleh pasangan yang baru menikah.
Wat Dimu menjelaskan bahwa sarak semanang berkaitan dengan kisah perjalanan hidup sebuah keluarga yang baru memulai rumah tangga. Ia menceritakan berdasarkan pengalaman yang pernah ia saksikan saat masih kecil, di mana pasangan yang baru menikah kerap mengalami sakit-sakitan secara bergantian. Ketika salah satu sembuh, maka yang lainnya jatuh sakit, dan kondisi ini berlangsung terus-menerus. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun tidak kunjung menemukan kesembuhan.
“Dulu orangtua dari kedua belah pihak itu berembuk bagaimana kalau mereka berdua ini sarak semanang dulu. Nah sarak semanang ini bukan cerai, tetapi bisa saja si istri tadi kembali dulu ke rumah orangtuanya,” ujar Wat Dimu dalam siaran tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk ikhtiar keluarga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Menurutnya, keputusan untuk melakukan sarak semanang tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui musyawarah keluarga yang juga melibatkan ketua adat Dayak. Hal ini didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan tertentu, bahwa dalam pernikahan tersebut terdapat firasat kurang baik atau pertanda yang dianggap membawa dampak buruk bagi pasangan. Oleh karena itu, pasangan dipisahkan sementara untuk mengembalikan kondisi seperti semula sebelum menikah.
“Sarak semanang ini bisa saja orang punya keyakinan dan kepercayaan, mungkin ketika mereka menikah ada firasat yang kurang baik, sehingga dikembalikan dulu seperti awal, baru bersatu kembali,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa masa perpisahan dalam tradisi ini bervariasi, mulai dari satu minggu hingga beberapa bulan, tergantung kondisi kesehatan pasangan. Setelah keduanya benar-benar pulih, barulah mereka dipersatukan kembali sebagai suami istri. (RMD)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....