Moderasi Beragama di Sintang Kunci Utamanya Kerukunan

  • 15 Sep 2026 19:55 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang- Moderasi beragama menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan, kedamaian, dan keseimbangan kehidupan masyarakat yang majemuk. Sikap moderat bukan berarti mengurangi atau mengorbankan keyakinan agama, melainkan mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.

Hal tersebut disampaikan Kasubag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sintang, H. Anang Nurkhalis, saat menjadi narasumber dalam podcast bertema “Moderasi Beragama di Era Media Sosial” di Aula RRI Sintang, Kamis (10/9/2026).

Menurut Anang, moderasi beragama berkaitan dengan cara seseorang bersikap, memandang, dan menjalankan kehidupan sosial dengan tetap menghormati nilai-nilai serta kesepakatan bersama yang berlaku di masyarakat.

“Moderasi itu mewujudkan kerukunan, mewujudkan kedamaian dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk,” ujar Anang.

Ia mengatakan, Kabupaten Sintang merupakan daerah yang memiliki keberagaman suku dan agama. Keberagaman tersebut, menurutnya, harus menjadi kekuatan yang terus dirawat melalui sikap saling menghormati, toleransi, dan gotong royong.

Anang menegaskan, penerapan moderasi beragama tidak berarti seseorang harus meninggalkan atau mengurangi ajaran agama yang diyakininya. Setiap umat tetap dapat menjalankan ajaran agamanya secara baik, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat yang berbeda keyakinan.

“Tanpa mengorbankan ajaran agama kita masing-masing, kita tetap bisa menjalankan ajaran agama dengan baik sesuai keyakinan masing-masing, sekaligus hidup bahagia, nyaman, dan damai di tengah masyarakat,” katanya.

Menurutnya, nilai-nilai moderasi sejatinya telah dipraktikkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penguatan moderasi beragama menjadi penting agar kehidupan sosial di tengah keberagaman semakin harmonis.

“Ketika kita berbicara masalah moderasi, kata kuncinya adalah kerukunan,” tegas Anang.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sintang, Pdt. Welikinsi, mengatakan moderasi beragama merupakan kemampuan untuk mengambil jalan tengah dalam menyikapi keberagaman, tanpa terjebak pada sikap ekstrem.

“Moderasi beragama artinya dalam sebuah keberagaman ini kita mampu mengambil jalan tengah. Tidak ekstrem ke kanan, tidak ekstrem ke kiri,” ujar Welikinsi.

Ia menjelaskan, moderasi beragama dapat diwujudkan melalui sikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghargai perbedaan, menjaga hubungan baik dengan tetangga, serta membangun kehidupan sosial yang rukun dan saling membantu.

Welikinsi menekankan, hidup berdampingan dalam keberagaman bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Setiap umat tetap memegang teguh ajaran agama masing-masing, sembari memberikan ruang dan penghormatan kepada pemeluk agama lain.

“Kita pegang teguh keyakinan agama kita masing-masing. Tetapi dalam moderasi beragama, mari kita mengambil jalan tengah, hidup rukun dan berdampingan satu sama lain,” katanya.

Ia berharap semangat moderasi beragama terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sintang. Dengan demikian, keberagaman suku, agama, dan latar belakang masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan sekaligus mendukung pembangunan daerah.

“Intinya dalam kerukunan ini kita pegang teguh keyakinan kita masing-masing, tetapi tetap hidup bersama dan saling menghargai,” pungkas Welikinsi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....