Pencatatan Keuangan Jadi Kunci UMK Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku

  • 08 Sep 2026 18:53 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Pencatatan keuangan yang rapi menjadi salah satu kunci penting bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) dalam mengelola usaha sekaligus menghadapi berbagai perubahan ekonomi, termasuk kenaikan harga bahan baku.

Hal tersebut disampaikan Andre Mustikanour, Fasilitator Pendampingan UMK Rumah BUMN Sintang, saat mengisi program UMKM BICARA, Senin (7/9/2026).

Menurut Andre, pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi untuk mengetahui kondisi keuangan usaha, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam menentukan berbagai strategi bisnis. Dengan pencatatan yang baik, proses pemantauan usaha dapat dilakukan lebih efektif.

“Kalau memang pencatatannya rapi, kadang datang itu bukan opsi yang harus dilakukan. Kadang cukup dicek melalui foto saja. Karena pencatatannya rapi,” ujar Andre.

Sebaliknya, kata dia, apabila pencatatan keuangan tidak dilakukan dengan baik, pendamping perlu melakukan pengecekan secara langsung untuk mengetahui kondisi usaha di lapangan.

Andre menjelaskan, pencatatan keuangan juga berperan dalam mengurangi risiko usaha, terutama di tengah kondisi ekonomi yang membuat harga berbagai kebutuhan produksi mengalami perubahan.

“Pencatatan keuangan itu untuk mengurangi risiko juga. Apalagi dengan imbas ekonomi, semua bahan naik harganya,” katanya.

Ia mencontohkan kenaikan harga bahan baku seperti sayuran, cabai hingga bahan kemasan berupa plastik yang secara langsung dapat memengaruhi biaya produksi.

“Misalnya sebelumnya harga bahan untuk satu kali produksi hanya habis Rp500 ribu. Kemudian terjadi perubahan, misalnya harga cabai naik, tiba-tiba pengeluaran menjadi Rp600 ribu. Otomatis HPP-nya akan berubah,” jelasnya.

Menurut Andre, perubahan Harga Pokok Produksi (HPP) harus segera diikuti dengan strategi usaha yang tepat. Pelaku UMK perlu mengetahui kapan harga jual masih dapat dipertahankan dan kapan harus dilakukan penyesuaian.

“Ketika HPP berubah, otomatis ada strategi yang harus kita olah kembali. Ketika kita punya pencatatan, kita tahu kapan HPP bisa berubah dan kapan harga masih bisa tetap,” ujarnya.

Ia menambahkan, keputusan untuk menaikkan harga jual bukan satu-satunya pilihan ketika biaya produksi meningkat. Pelaku usaha dapat mempertimbangkan berbagai strategi berdasarkan data yang dimiliki, termasuk menyesuaikan penggunaan bahan baku.

“Ketika memang HPP harus berubah, ada tindakan-tindakan tertentu yang harus kita lakukan. Untuk sampai pada tindakan dan pilihan tertentu, yang pertama kita harus punya adalah data,” tegas Andre.

Ia mencontohkan, ketika harga cabai mengalami kenaikan, pelaku usaha perlu mencari informasi harga secara spesifik sesuai kebutuhan bahan bakunya. Misalnya, membandingkan harga cabai keriting dan cabai rawit sebelum menentukan langkah.

“Kalau harga cabai rawit lebih mahal, otomatis kemungkinan kita bisa mengubah sedikit jumlah cabai rawitnya. Jadi, pencatatan itu berguna untuk kita sendiri sebagai pengusaha untuk mengatur strategi selanjutnya,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....