Suara Indah dari Lapangan Stadion Baning, Haru Menyelimuti Hari Pramuka ke-65
- 15 Agt 2026 00:40 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Pagi itu Stadion Baning Sintang tidak hanya dipenuhi semangat dan keceriaan peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Kabupaten. Selepas upacara besar yang digelar Jumat, 14 Agustus 2026 suasana mendadak berubah menjadi haru ketika dua anak istimewa dari SLBN 25 Sintang tampil di hadapan ratusan peserta. Ireneus Julian Theo dan Maryam dua siswa penyandang tunanetra berdiri dengan penuh percaya diri di tengah lapangan. Dengan suara yang merdu, Theo membawakan lagu Here’s Your Perfect. Alunan suaranya perlahan membuat suasana stadion yang sebelumnya riuh menjadi lebih tenang. Para peserta upacara seakan larut dalam setiap bait lagu yang dinyanyikannya. Tak lama berselang, giliran Maryam tampil. Lagu Andaikan Aku Punya Sayap mengalun dari lapangan Stadion Baning. Suara Maryam yang lembut namun penuh penghayatan membuat suasana semakin menyentuh.
Penampilan kedua anak tersebut rupanya tidak hanya memukau para peserta. Dari tribun stadion Bupati Sintang Gregorius Bala terlihat tersentuh. Ia kemudian turun dari tempat duduknya dan berjalan menuju lapangan mendekati Theo dan Maryam yang sedang tampil. Di hadapan kedua anak istimewa itu Bupati Sintang memberikan uang sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan bakat yang mereka tunjukkan. Apresiasi itu semakin hangat ketika Gregorius Bala menyambut penampilan Theo dengan lantunan pantun. “Walau kau tidak sempurna, Tapi hari ini tetap luar biasa”. Katanya. Momen sederhana tersebut berubah menjadi pemandangan yang begitu mengharukan. Bupati Sintang berdiri di samping Theo dan Maryam. Beberapa pejabat yang turut berada di lokasi termasuk Kapolres, Dandim 1205 Sintang serta jajaran Korem 121/Alambanawanawai tampak menunjukkan ekspresi penuh haru. Wajah mereka terlihat memerah seolah berusaha menahan air mata saat menyaksikan dua anak tersebut terus bernyanyi dengan penuh percaya diri.
Di tengah keterbatasan penglihatan yang mereka miliki Theo dan Maryam justru menunjukkan bahwa bakat tidak mengenal batas. Mereka mungkin tidak dapat melihat luasnya Stadion Baning atau wajah ratusan orang yang menyaksikan penampilan mereka. Namun melalui suara yang mereka lantunkan keduanya seakan mampu membuat seluruh stadion merasakan apa yang mereka alami. Kejutan lain terjadi ketika penampilan Maryam memuncak. Para anggota Pramuka Siaga, Penggalang dan Penegak yang sebelumnya berada dalam barisan sebagai peserta upacara sontak berlari menuju keduanya. Mereka datang sambil bersorak dan memberikan dukungan kepada Theo dan Maryam. Lapangan yang sebelumnya menjadi tempat berlangsungnya upacara kini berubah menjadi ruang perayaan. Anak-anak Pramuka mengelilingi dua penyanyi muda tersebut. Tepuk tangan dan sorak sorai menggema menjadi bentuk penghargaan yang mungkin jauh lebih berarti daripada sekadar tepuk tangan biasa.
Hari Pramuka ke-65 di Sintang akhirnya meninggalkan sebuah cerita yang berbeda. Bukan hanya tentang barisan yang rapi, seragam cokelat ataupun upacara yang berlangsung khidmat. Lebih dari itu peringatan tersebut menjadi panggung bagi dua anak istimewa untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan berkarya. Theo dan Maryam membuktikannya melalui suara.
Di Stadion Baning pagi itu suara mereka bukan sekadar nyanyian. Ia menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cahaya dan bakatnya sendiri yang hanya membutuhkan kesempatan untuk bersinar. Di antara riuh tepuk tangan dan sorak para Pramuka ada pula air mata haru yang diam-diam jatuh atau tertahan. Sebuah momen ketika seluruh stadion seakan sepakat bahwa keterbatasan tidak pernah mampu membatasi seseorang untuk menginspirasi. (RMD)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....