Game Kartu Jadi Media Edukasi Cegah Bullying di Sintang
- 14 Agt 2026 16:48 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang — Upaya pencegahan perundungan atau bullying sejak dini terus dilakukan melalui berbagai pendekatan edukatif dan kreatif. Salah satunya melalui program “Stop Bully Movement: Upaya Pencegahan Perundungan Sejak Dini melalui Media Game Kartu” yang menyasar siswa SDN 5 Sintang.
Program tersebut merupakan bentuk pengabdian yang diusung Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN Sunan Kalijaga dan menjadi bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sintang, Kalimantan Barat. Program ini direalisasikan oleh Aulia Rasyid, mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, bersama Tim Bentang Sintang.
Aulia Rasyid mengatakan, penggunaan permainan kartu menjadi salah satu cara untuk menyampaikan edukasi mengenai perundungan dengan pendekatan yang lebih interaktif dan mudah diterima siswa. Kegiatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami pengertian bullying, tetapi juga mampu mengenali situasi, memahami perasaan, serta menentukan respons yang tepat ketika menghadapi perundungan.
| Baca juga: Upaya TPK Menyumbung tengah Cegah Stunting |
“Media kartu yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri atas empat kategori, yaitu Kartu Situasi, Kartu Perasaan, Kartu Respons, dan Kartu Refleksi. Keempat kategori tersebut dirancang untuk membantu siswa mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami perasaan yang muncul dalam situasi tertentu, menentukan respons yang tepat, serta melakukan refleksi terhadap tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan memutus rantai perundungan,” kata Aulia.
Melalui pendekatan berbasis permainan, siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah. Mereka diajak berdiskusi, berinteraksi, dan memahami berbagai situasi perundungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Metode tersebut diharapkan membuat proses edukasi menjadi lebih menyenangkan sekaligus membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pertemanan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Kegiatan Stop Bully Movement dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, yakni pada 21 dan 23 Juli 2026. Sebanyak 58 siswa kelas IV dan VI SDN 5 Sintang mengikuti kegiatan tersebut. Tujuh fasilitator turut terlibat dalam mendampingi jalannya kegiatan, mulai dari mengarahkan permainan kartu, memantik interaksi antarsiswa, hingga membantu peserta merefleksikan kembali pemahaman mengenai perundungan dan cara mencegahnya.
“Selama dua kali pertemuan, kegiatan ini diikuti oleh 58 siswa kelas IV dan VI SDN 5 Sintang. Sebanyak tujuh fasilitator turut mendampingi siswa, mulai dari mengarahkan permainan kartu, membangun interaksi antarsiswa, hingga membantu mereka merefleksikan kembali pemahaman tentang perundungan dan cara mencegahnya,” jelas Aulia.
Dalam pelaksanaannya, permainan kartu menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat dan belajar menentukan sikap ketika menghadapi situasi yang berpotensi menjadi perundungan. Siswa juga diarahkan memahami bahwa tindakan sederhana, seperti mengejek, mengucilkan, atau menyakiti teman, dapat memberikan dampak terhadap perasaan dan kondisi orang lain.
Melalui kegiatan ini, Stop Bully Movement diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi semata. Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam menumbuhkan keberanian siswa untuk mengenali, mencegah, dan menghentikan tindakan perundungan sejak dini, baik ketika menjadi korban maupun ketika melihat perundungan terjadi di lingkungan sekitar.
Upaya tersebut sekaligus menanamkan pemahaman bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Siswa tidak hanya didorong untuk menghindari tindakan bullying, tetapi juga diajak menjadi bagian dari lingkungan pertemanan yang saling menghargai, peduli, dan mendukung.
Sebab, memutus rantai bullying tidak selalu dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari percakapan sederhana, pemahaman terhadap perasaan orang lain, serta keberanian untuk memilih tidak menyakiti satu sama lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....