Fakta Menarik Ampo Tanah Liat Camilan Tradisional Unik

  • 11 Agt 2026 10:14 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Ampo merupakan makanan ringan atau camilan unik karena terbuat dari tanah liat. Bentuknya bulat memanjang seperti stik, namun kecil dan tipis. Warnanya hitam legam.ampo terbuat dari tanah liat murni tanpa campuran apapun. Jajanan ini dianggap menyehatkan oleh masyarakat setempat. Bahkan, sebagian orang menjadikan ampo sebagai camilan wajib sore hari, disandingkan dengan teh atau kopi hangat.

Bagi masyarakat awam, mengonsumsi tanah liat mungkin terdengar sangat tidak lazim. Namun, bagi sebagian orang, makan ampo memberikan sensasi tersendiri. Beberapa orang mengaku menyukai aroma khas tanah yang terbakar (mirip dengan aroma hujan yang turun membasahi bumi), sementara yang lain mengonsumsinya untuk meredakan rasa tidak nyaman pada perut. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia; praktik makan tanah atau lempung sebenarnya telah ada sejak ribuan tahun lalu dan tersebar di berbagai belahan dunia seperti Afrika dan Amerika Selatan.

Meskipun memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat, mengonsumsi tanah liat menimbulkan banyak pertanyaan dari kacamata medis dan kesehatan. Apakah aman bagi pencernaan manusia? Apa saja risiko yang mengintai di balik segulung ampo yang renyah? Faktanya, kebiasaan mengonsumsi benda-benda non-makanan seperti tanah memiliki nama medis tersendiri dan sering kali berkaitan dengan masalah kekurangan gizi hingga risiko infeksi parasit yang berbahaya.

Fakta Unik Seputar Ampo Tanah Liat

Sebelum membahas dampaknya dari segi kesehatan, ada baiknya kamu mengenal lebih dekat bagaimana ampo ini diproduksi dan sejarah di baliknya. Proses pembuatan ampo tanah liat tidak bisa menggunakan sembarang tanah. Para pembuat ampo biasanya mencari tanah liat yang bersih, bertekstur sangat halus, serta bebas dari campuran pasir, kerikil, atau kotoran lainnya. Tanah liat yang telah dibersihkan kemudian ditumbuk atau dipadatkan menjadi bentuk kotak padat.

Setelah itu, dengan menggunakan alat khusus semacam pisau bambu, tanah liat dikikis tipis-tipis hingga menggulung seperti wafer gulung atau astor. Gulungan-gulungan tanah liat ini kemudian dimasukkan ke dalam periuk tanah liat besar dan dipanggang atau diasap di atas tungku kayu bakar selama beberapa jam. Proses pemanggangan inilah yang membuat ampo menjadi kering, renyah, dan memiliki aroma khas yang disukai penggemarnya.

Pada zaman dahulu, terutama di masa penjajahan ketika bahan pangan sangat sulit didapatkan, ampo sering kali digunakan sebagai pengganjal perut untuk mengusir rasa lapar. Selain itu, banyak juga masyarakat tradisional yang percaya bahwa mengonsumsi ampo dapat membantu mendinginkan perut dan meredakan masalah pencernaan ringan. Meski secara historis cukup melegenda, pandangan dunia kesehatan modern melihat praktik ini dengan kacamata yang berbeda.

Dampak dan Bahaya Kesehatan Mengonsumsi Tanah Liat

Sekalipun ampo tanah liat telah melalui proses pengasapan atau pemanggangan, mengonsumsinya tetap membawa serangkaian risiko kesehatan yang sangat serius. Sistem pencernaan manusia dirancang untuk menyerap karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin, bukan untuk memproses material tanah. Berikut adalah beberapa bahaya utama dari mengonsumsi ampo tanah liat:

1. Infeksi Parasit dan Cacingan

2. Paparan Logam Berat Beracun

3. Obstruksi Usus (Penyumbatan Saluran Cerna)

4. Memperparah Anemia (Kekurangan Zat Besi)

5. Kerusakan pada Mulut dan Gigi

Namun apakah ampo benar-benar aman untuk dikonsumsi

terlepas dari statusnya sebagai warisan budaya tak benda? Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc. mengungkapkan bahwa ampo yang sebagian besar komponennya berasal dari silika dan alumina sebetulnya tidak mudah larut di air, dan tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga membuatnya tidak memiliki nilai gizi.

Sedang perihal keamanannya, bahwa hal tersebut tergantung dengan sumber dari mana tanah tersebut berasal. Jika tanah yang diambil sebagai bahan berasal dari selatan gunung berapi masih berada di area pegunungan, maka tanah yang mengandung mineral tersebut masih relatif bersih. Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika sudah sampai di daerah dekat ladang atau pemukiman dan digunakan untuk berbagai keperluan seperti pemupukan, maka kemungkinan bahwa tanah tersebut sudah terkontaminasi dan tercemar zat-zat lain seperti pestisida dan logam berat seperti timbal sangat mungkin terjadi.

Meski begitu, untuk tetap mempertahankan ampo sebagai warisan budaya tak benda dalam masyarakat, tetap memperhatikan segi kesehatan dan keamanannya dan menyarankan untuk memperhatikan siapa, berapa, dan kapan waktu mengonsumsi ampo tersebut. Menurutnya, jika dikaitkan dalam budaya maka ampo itu dihadirkan pada waktu-waktu dan kondisi-kondisi tertentu. Selain itu, faktor usia sangat mempengaruhi karena balita dan manula sangat beresiko.

Sumber Refrensi Utama : https://ugm.ac.id/id

https://www.halodoc.com/

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....